Musim Hajatan dan MBG Dongkrak Harga Ayam, Telur Malah Sepi Peminat
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 33 menit yang lalu
- visibility 25
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Pergerakan harga dua komoditas pangan utama di Kabupaten Magetan menunjukkan tren yang berlawanan. Harga daging ayam pedaging terus mengalami kenaikan hingga mencapai Rp35 ribu per kilogram, sedangkan harga telur ayam justru merosot ke kisaran Rp20–21 ribu per kilogram di tingkat kandang. Kondisi tersebut memunculkan dampak berbeda bagi peternak, pedagang pasar, hingga pelaku usaha kuliner.
Kenaikan harga ayam dipicu meningkatnya permintaan pada awal Agustus. Selain banyaknya kegiatan hajatan masyarakat, kebutuhan pasokan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mendongkrak permintaan ayam pedaging. Sementara itu, penjualan telur justru melemah akibat daya beli masyarakat yang dinilai menurun sehingga stok mulai menumpuk.
Pedagang ayam di Pasar Sayur Magetan, Sunarti, mengatakan harga ayam saat ini telah mencapai Rp35 ribu per kilogram atau naik sekitar Rp7 ribu dibandingkan sepekan sebelumnya yang masih berkisar Rp28 ribu per kilogram.
Menurutnya, lonjakan permintaan menjadi faktor utama kenaikan harga. Selain kebutuhan hajatan yang meningkat pada musim tertentu, dapur penyedia makanan untuk Program MBG juga menyerap pasokan ayam dalam jumlah cukup besar.
“Harga Rp35 ribu ini sebenarnya sudah standar supaya peternak tetap mendapatkan keuntungan. Kalau terus di harga Rp28 ribu, peternak bisa rugi,” ujarnya.
Sunarti menilai kondisi saat ini justru lebih menguntungkan bagi peternak karena harga jual sudah berada pada level yang layak. Meski margin keuntungan pedagang tidak sebesar ketika harga ayam murah, tingginya permintaan membuat perputaran barang lebih cepat sehingga usaha tetap berjalan sehat.
“Kalau harga ayam mahal justru jualnya lebih enak karena banyak yang cari. Yang penting dagangan cepat habis,” katanya.
Berbeda dengan ayam, harga telur justru terus mengalami penurunan. Saat ini harga di tingkat kandang hanya berada di kisaran Rp20–21 ribu per kilogram. Padahal, saat Program MBG kembali berjalan usai libur sekolah, harga telur sempat menyentuh Rp23 ribu per kilogram di tingkat peternak dan dijual sekitar Rp25 ribu per kilogram di pasar.

Pedagang telur di Pasar Sayur Magetan, Ook Cahyadi, mengatakan tren penurunan harga terjadi karena permintaan masyarakat kembali melemah. Akibatnya, penjualan melambat dan stok telur mulai menumpuk, baik di kandang peternak maupun di lapak pedagang.
“Awal MBG buka sempat Rp23 ribu dari kandang. Sekarang tinggal Rp20 ribu. Itu pun susah laku, satu peti telur bisa dua hari belum habis,” keluhnya.
Menurut Ook, rendahnya daya beli masyarakat membuat konsumen lebih selektif dalam berbelanja kebutuhan pangan. Kondisi tersebut tidak hanya dirasakan pedagang telur, tetapi juga sejumlah pedagang kebutuhan pokok lainnya yang mengalami perlambatan perputaran barang.
Kenaikan harga ayam juga berdampak langsung terhadap pelaku usaha kuliner. Pemilik warung makan di Magetan, Suprihatin, mengaku biaya pembelian bahan baku meningkat cukup tajam dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, ia memilih mempertahankan harga jual menu agar pelanggan tidak beralih ke tempat lain.
“Pastinya keuntungan berkurang karena belanja naik. Kami tidak berani menaikkan harga, nanti pelanggan kecewa dan kapok makan di warung,” ujarnya.
Suprihatin mengatakan jumlah pembelian ayam untuk kebutuhan warung tetap dipertahankan agar kualitas dan porsi makanan tidak berubah. Konsekuensinya, keuntungan usaha harus dikurangi demi menjaga loyalitas pelanggan di tengah kondisi ekonomi yang masih menekan daya beli masyarakat.
Perbedaan tren harga ayam dan telur ini menunjukkan dinamika pasar pangan yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari peningkatan permintaan musiman, pelaksanaan Program MBG, hingga melemahnya daya beli masyarakat. Di satu sisi, peternak ayam mulai menikmati harga jual yang lebih menguntungkan. Namun di sisi lain, peternak dan pedagang telur masih menghadapi tantangan akibat lesunya penyerapan pasar. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez




