SDN 1 Setono Ditutup, DPRD Ponorogo Dorong Penataan Guru dan Kaji Regrouping
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 53
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — Penutupan SDN 1 Setono, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, mendapat perhatian DPRD Kabupaten Ponorogo. Sekolah yang selama beberapa tahun mengalami kekurangan siswa tersebut akhirnya ditutup setelah tidak mendapatkan murid baru dan adanya keinginan wali murid agar anak-anak mereka bersekolah di tempat lain.
Anggota DPRD Ponorogo, Ribut Riyanto, mengatakan keputusan penutupan SDN 1 Setono dilakukan karena sekolah tersebut tidak mendapatkan murid. Selain itu, wali murid juga menghendaki agar sekolah ditutup.
“Karena Setono 1 tidak dapat murid dan wali murid menghendaki penutupan, maka DPRD menyetujui supaya guru pendidik bisa digeser penempatannya,” ujar Ribut.
Menurut Ribut, penataan tenaga pendidik menjadi salah satu hal yang perlu dilakukan setelah sekolah ditutup. Guru dan tenaga pendidik diharapkan dapat ditempatkan kembali sesuai kebutuhan sekolah lain.
Sementara itu, terkait rencana regrouping sekolah, DPRD Ponorogo bersama Dinas Pendidikan terus melakukan kajian. Ribut mengatakan proses tersebut masih dibahas untuk menentukan langkah terbaik terhadap penataan sekolah yang mengalami kekurangan siswa.
“Untuk regrouping kami bersama dinas terus mengkaji,” katanya.
Sebelumnya, SDN 1 Setono hanya memiliki enam siswa sebelum akhirnya ditutup pada Juli 2026. Keenam siswa tersebut terdiri atas masing-masing dua siswa kelas IV, V, dan VI. Sedangkan kelas I hingga III praktis tidak memiliki siswa.
Sekretaris Kelurahan Setono, Handry Reza Pratama, mengatakan minimnya jumlah siswa terjadi karena jumlah pendaftar baru terus menyusut. Bahkan, ketika hanya terdapat satu atau dua calon siswa, orang tua biasanya diarahkan untuk memilih sekolah lain yang memiliki jumlah siswa lebih banyak.
Pihak kelurahan mengaku menyayangkan penutupan tersebut. Terlebih, SDN 1 Setono merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri di wilayah Kelurahan Setono.
Selain jumlah pendaftar yang minim, lokasi sekolah yang berada di tepi jalan raya juga disebut menjadi salah satu pertimbangan sebagian orang tua. Padatnya lalu lintas membuat wali murid khawatir terhadap keselamatan anak saat beraktivitas di sekitar sekolah.
Setelah sekolah ditutup, para siswa yang tersisa dipindahkan ke sekolah lain. Salah satunya Dafa Putra Pratama, siswa kelas V yang kini melanjutkan pendidikan di SDN 1 Jenangan.
Dafa mengaku senang setelah pindah sekolah karena memiliki lebih banyak teman.
“Senang. Karena temannya banyak,” kata Dafa.
Kini, bangunan SDN 1 Setono masih berdiri, namun tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Penutupan sekolah tersebut menjadi bagian dari persoalan penataan pendidikan di tengah semakin menurunnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah dasar negeri. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez



