Stadion GBK Ponorogo Dikaji Jadi Lokasi Konser, Pemkab Cari Jalan Tengah antara Ekonomi dan Kualitas Rumput
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 58
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Stadion Gelora Batoro Katong (GBK) Ponorogo kembali menjadi sorotan. Pemerintah Kabupaten Ponorogo tengah mengkaji kemungkinan penggunaan stadion sebagai lokasi konser musik berskala besar. Di satu sisi, konser dinilai mampu menggerakkan perekonomian daerah. Namun di sisi lain, pemerintah juga harus menjaga kualitas rumput stadion yang baru direvitalisasi dengan standar lapangan sepak bola yang lebih baik.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima sejumlah permohonan dari event organizer (EO) untuk menggelar konser di Stadion Gelora Batoro Katong. Salah satu agenda yang diajukan rencananya akan digelar pada akhir Agustus 2026.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan final. Pemerintah masih melakukan kajian terhadap berbagai risiko, terutama terkait perlindungan aset stadion.
“Secara prosedur, event organizer mengajukan permohonan untuk melakukan event di stadion. Karena kita ini belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk konser. Sudah lama Ponorogo tidak ada konser,” ujar Judha, Rabu (15/7/2026).
Menurut Judha, penyelenggaraan konser tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Berbagai kegiatan berskala besar dinilai dapat meningkatkan perputaran uang di daerah dan menggerakkan sektor usaha masyarakat.
“Dengan adanya event-event itu mampu mengungkit perekonomian dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Ini tentunya juga harus kita pikirkan bersama,” katanya.
Ia menjelaskan, penggunaan Alun-Alun Ponorogo sebagai lokasi konser dinilai kurang efektif karena membutuhkan biaya tambahan yang besar, terutama untuk pemasangan pagar pembatas dan pemenuhan persyaratan teknis. Kondisi tersebut membuat banyak penyelenggara lebih memilih stadion sebagai lokasi acara.
“Prinsipnya kita memfasilitasi. Ini demi masyarakat dan demi perekonomian supaya tetap berputar. Ketika Ponorogo tidak ada event, daerah ini terasa sepi,” ungkapnya.
Meski membuka peluang penggunaan stadion, Disbudparpora menegaskan tidak akan memberikan izin tanpa kajian yang matang. Saat ini pemerintah sedang menyusun skema agar konser dapat berlangsung tanpa merusak fasilitas olahraga yang baru dibenahi.
“Kita tidak serta-merta memberikan izin. Tentunya perlu kajian, termasuk soal tanggung jawab apabila terjadi kerusakan. Kami juga sedang studi ke Madiun dan beberapa daerah lain yang sudah pernah menggelar konser di stadion,” jelas Judha.
Selain perlindungan aset, pemerintah juga mempertimbangkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selama beberapa tahun terakhir, pengelolaan Stadion Gelora Batoro Katong disebut belum memberikan pemasukan yang signifikan.
“Banyak event organizer yang menginginkan stadion. Di sisi lain stadion juga memiliki target pendapatan. Selama beberapa tahun ini pendapatannya masih nol, sehingga kami berharap ada kontribusi untuk PAD,” tegasnya.
Di balik peluang tersebut, kondisi rumput stadion tetap menjadi perhatian utama. Rumput Stadion Gelora Batoro Katong baru saja direvitalisasi dan dipersiapkan untuk mendukung aktivitas olahraga. Pemerintah tidak ingin kualitas lapangan menurun akibat penyelenggaraan konser.
“Yang kita khawatirkan memang kondisi rumput. Kemarin baru direvitalisasi. Harapannya olahraga tetap berjalan, jogging track juga kita benahi, tetapi kegiatan event juga bisa difasilitasi,” katanya.
Judha berharap nantinya dapat ditemukan solusi yang mengakomodasi kepentingan olahraga sekaligus kebutuhan ekonomi daerah.
“Mudah-mudahan event-event seperti ini mampu mengungkit perekonomian Ponorogo. Dampaknya kesejahteraan masyarakat meningkat, olahraga hidup, kebudayaan hidup, pariwisata hidup, dan pendapatan daerah juga bertambah,” pungkasnya.
Sebagai informasi, rumput Stadion Gelora Batoro Katong menggunakan jenis Zoysia japonica yang didatangkan dari Jepang dengan nilai sekitar Rp678 juta. Rumput tersebut ditanam pada Agustus 2024 sebagai bagian dari revitalisasi stadion. Saat itu, penggunaan stadion untuk konser sempat dilarang demi menjaga kualitas lapangan. Kini, kebijakan tersebut kembali dikaji seiring meningkatnya kebutuhan menghadirkan konser musik berskala besar di Ponorogo. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez




