Berita Terkini
Trending Tags

Demi Anak Tetap Sekolah, Keringat Perempuan di Balik Manisnya Gula

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Minggu, 21 Sep 2025
  • visibility 125
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Ibu-ibu warga Desa Gonggang saat menebang Tebu, Foto : Kusnanto – Sinergia

Sinergia | Magetan – Di bawah terik matahari, deretan batang tebu menjulang seakan tak habis ditebang. Di sanalah, puluhan perempuan desa berjuang, menggenggam sabit dengan tangan kapalan. Mereka bukan sekadar buruh, tetapi ibu-ibu tangguh yang menjadikan pendidikan anak sebagai alasan utama untuk tetap bertahan.

Ngatmi (38), warga Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, sudah setahun terakhir menekuni pekerjaan ini. Dengan suara lirih ia bercerita, “Kalau uangnya nanti buat bekal sekolah anak, sama beli lauk-pauk. Walaupun panas dan capek, tetap saya jalani. Saya hanya ingin anak-anak saya bisa terus sekolah,” ujarnya.

Di sampingnya, Nurjanah (37) mengangguk sambil menambahkan, “Capek itu sudah pasti, apalagi panasnya luar biasa. Tapi harus dikuatkan, Mas. Suami saya kerja di mebel, penghasilannya pas-pasan. Kalau saya tidak ikut kerja, siapa yang akan bantu? Uang dari menebang ini untuk ragat anak sekolah. Harapannya sederhana, sekolah anak lancar, itu saja,” imbuhnya.

Dalam satu kelompok berisi 25–30 orang, mereka bisa menyelesaikan lima hingga enam truk tebu per hari. Namun upah yang dibawa pulang hanya Rp50–55 ribu. “Sehari dapat segitu, Mas. Ya disyukuri saja, yang penting bisa bawa uang pulang,” ujar Ngatmi.

Image Not Found
Warga Desa Gonggang saat menebang Tebu, Foto : Kusnanto – Sinergia

Meski tenaga perempuan sering dianggap tak sekuat laki-laki, mereka membuktikan ketegarannya. “Biasanya kan laki-laki yang tebang. Tapi saya ikut turun, supaya bisa bantu suami. Kalau tidak musim panen, ya di rumah saja, nganggur,” ungkap Nurjanah.

Keduanya mengaku, pekerjaan terberat adalah saat tebu roboh atau bengkok. “Kalau menarik tebu yang roboh itu, aduh, berat banget. Apalagi kalau hujan, makin susah,” tutur Ngatmi.

Beruntung, kini ada alat berat yang membantu mengangkat tebu ke atas truk. Meski begitu, tenaga mereka tetap menjadi penentu utama. “Ya kalau alat berat kan hanya mengangkat, tapi memotongnya tetap kami. Jadi tetap berat,” kata Nurjanah sembari menyeka keringat di dahinya.

Setelah musim panen tebu berakhir, pekerjaan pun berganti. Ada yang jadi buruh tanam padi, ada pula yang menggarap pekerjaan tani lain. Sementara sebagian perempuan yang sudah berumur lebih memilih tinggal di rumah, menjaga keluarga.

Bagi Ngatmi dan Nurjanah, upah yang kecil tidak pernah menyurutkan niat. “Yang penting sekolah anak-anak lancar. Itu sudah cukup buat saya,” tegas Ngatmi. Nurjanah menimpali dengan nada mantap, “Capek bisa hilang, panas bisa dilupakan, tapi kalau anak tidak bisa sekolah, itu yang paling berat bagi kami.”

Di tengah ladang tebu Magetan, mereka membuktikan bahwa kekuatan seorang ibu tidak hanya soal fisik yang tangguh, tetapi juga hati yang kokoh. Dari tangan mereka yang kapalan dan tubuh yang lelah, lahirlah pelajaran berharga: cinta seorang ibu adalah energi paling manis, bahkan lebih manis daripada gula itu sendiri.

Kusnanto – Sinergia

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cek Kesehatan Hewan Kurban di Kota Madiun Diperketat, Peternak Diminta Waspada PMK

    Cek Kesehatan Hewan Kurban di Kota Madiun Diperketat, Peternak Diminta Waspada PMK

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Menjelang Hari Raya Idul Adha, kesehatan hewan kurban di Kota Madiun menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun mulai melakukan pengecekan langsung ke sejumlah lokasi penjualan hewan kurban guna memastikan hewan yang dijual dalam kondisi sehat dan layak kurban. Salah satunya di Tapoz Farm […]

    Bagikan
  • Kopi Warisan Kolonial Belanda dari Lereng Gunung Lawu Tetap Bertahan, Jadi Primadona Baru Magetan

    Kopi Warisan Kolonial Belanda dari Lereng Gunung Lawu Tetap Bertahan, Jadi Primadona Baru Magetan

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Di tengah menjamurnya tren kopi lokal di Indonesia, lereng Gunung Lawu di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, masih menyimpan kekayaan yang tak banyak dimiliki daerah lain. Ratusan petani di kawasan ini tetap mempertahankan budidaya kopi dari bibit peninggalan era kolonial Belanda yang usianya telah melampaui satu abad. Keaslian varietas serta cita rasa […]

    Bagikan
  • Kreatif! Warga Pandean Sulap Sampah Plastik Jadi Lampion Merah Putih untuk HUT RI

    Kreatif! Warga Pandean Sulap Sampah Plastik Jadi Lampion Merah Putih untuk HUT RI

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, warga Kelurahan Pandean, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, punya cara unik memeriahkan suasana. Mereka memanfaatkan sampah plastik bekas menjadi lampion bernuansa merah putih yang menghiasi lingkungan tempat tinggal. Kegiatan ini digagas oleh Rodiyah (45), warga setempat yang juga anggota Bank Sampah Pandean. Bersama puluhan […]

    Bagikan
  • Minyak Goreng Mahal dan Langka, Pelaku UMKM Ngawi Terpaksa Menaikkan Harga

    Minyak Goreng Mahal dan Langka, Pelaku UMKM Ngawi Terpaksa Menaikkan Harga

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Sinergia | Ngawi – Lonjakan harga minyak goreng yang diiringi kelangkaan pasokan di pasaran memberikan tekanan serius bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Untuk menjaga keberlangsungan usaha, para pelaku UMKM akhirnya menyesuaikan harga jual produk, meski konsekuensinya berisiko ditinggalkan pelanggan. Kondisi ini terlihat di sentra keripik tempe Desa […]

    Bagikan
  • Polisi Buru Pembuang Bayi di Sawah Sumbergandu

    Polisi Buru Pembuang Bayi di Sawah Sumbergandu

    • calendar_month Selasa, 15 Apr 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun — Misteri penelantaran bayi di area persawahan Desa Sumbergandu, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Selasa (15/4/2025) pagi, perlahan mulai terkuak. Satreskrim Polres Madiun kini tengah memburu pelaku yang tega membuang bayi laki-laki tak berdosa tersebut. Begitu mendapat laporan dari warga, polisi langsung bergerak cepat. Kasatreskrim Polres Madiun AKP Agus Andi Anton mengatakan, […]

    Bagikan
  • Relokasi TPA Mrican ke Lahan Perhutani Sukun Ditargetkan Rampung 2026

    Relokasi TPA Mrican ke Lahan Perhutani Sukun Ditargetkan Rampung 2026

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Proses panjang relokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mrican ke lahan Perhutani di wilayah Sukun dipastikan segera rampung. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo menyebut, tahap akhir berupa kelengkapan persyaratan administrasi dan teknis kini hampir selesai. Plt. Kepala DLH Ponorogo, Jamus Kunto, mengatakan penyelesaian dokumen dan nilai anggaran ditargetkan tuntas pada Desember […]

    Bagikan
expand_less