
Sinergia | Kab. Madiun — Harga tomat di Jawa Timur terus anjlok sejak Agustus 2025. Dari sebelumnya Rp. 6.000–7.000 per kilogram, kini petani hanya bisa menjual Rp. 2.000 per kilogram. Situasi ini membuat petani merugi, lantaran harga pokok penjualan tak sebanding dengan biaya produksi.
Deflasi akibat overproduksi tomat tercatat di 14 kabupaten/kota di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Madiun. Petani mengaku kesulitan bertahan karena harga yang jatuh terlalu jauh dari tahun lalu yang sempat mencapai Rp. 11.000 per kilogram.
“Minimal Rp4.000 per kilogram lah, baru bisa ada untung. Kalau Rp2.000 jelas bikin kami prihatin,” kata Wagimun (75), petani tomat asal Desa Kandangan, Kecamatan Kare, Madiun, Jumat (26/09/2025).
Menurut Wagimun, harga anjlok karena terlalu banyak petani menanam tomat pada musim tanam lalu. Panen yang serentak membuat pasokan membludak, sementara daya beli masyarakat tidak berubah.
Menanggapi krisis harga ini, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memerintahkan pemerintah kabupaten/kota menyerap hasil panen tomat petani. Ia menilai langkah ini efektif menstabilkan harga sekaligus mencegah kerugian lebih besar.
“Langkah ini sama seperti yang kami lakukan saat oversuplai bawang merah di Nganjuk dan harga beras anjlok di Bojonegoro. Barang harus kita serap agar harga kembali netral,” kata Khofifah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur berencana membeli tomat dari petani seharga Rp4.000 per kilogram. Di Desa Kare saja, produksi tomat yang siap panen mencapai 1,3 ton. Hasil serapan itu nantinya akan dibagikan ke sekolah-sekolah sebagai tambahan asupan vitamin untuk anak-anak PAUD, TK, dan SD.
“Bupati dan wali kota di semua daerah kami minta ikut menyerap. Tomat bisa diolah jadi jus dan dibagikan ke anak-anak sekolah,” ujarnya.
Tova Pradana – Sinergia