Berita Terkini
Trending Tags

Kebakaran Lereng Lawu Meluas ke Hutan Lindung Ngawi, Luasan Capai 15 Hektare

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 22
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Kebakaran lereng Lawu meluas ke hutan lindung Ngawi. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Ngawi – Kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu memasuki hari ketiga dan masih menyisakan sejumlah titik api. Api yang sebelumnya membakar kawasan hutan di wilayah Kabupaten Magetan kini bergerak ke arah utara dan telah memasuki kawasan hutan lindung di wilayah Kabupaten Ngawi.

Waka Administratur Lawu Ds Hermawan mengatakan, berdasarkan pemantauan hingga Rabu (16/9/2026) siang, luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 13 hingga 15 hektare. Sebagian besar luasan tersebut berada di wilayah Ngawi.

Sementara kawasan yang sebelumnya terbakar di sisi Magetan, khususnya sekitar Petak 51A, telah berhasil dikendalikan. Hasil survei tim hingga Rabu siang juga tidak menemukan lagi asap di kawasan tersebut.

“Kalau sampai siang hari ini sekitar 13 sampai 15 hektare. Termasuk sudah di kawasan hutan lindung, tapi masuk di Kabupaten Ngawi,” kata Hermawan.

Hermawan menjelaskan, kebakaran yang pertama kali terpantau di kawasan hutan wilayah Magetan kemudian bergerak ke arah utara. Pergerakan tersebut dipengaruhi kondisi angin yang cenderung bertiup ke utara.

Sejumlah titik api kini terpantau di kawasan hutan yang mengarah ke Gunung Anakan, wilayah Ngawi. Bahkan, pada Rabu sekitar pukul 12.00 WIB, kembali terpantau titik api baru di kawasan Petak 66, Sidomulyo, yang masih masuk wilayah Magetan.

“Kalau tadi jam 12 ada muncul di Petak 66 di Sidomulyo kalau tidak salah namanya. Ini proses pemadaman saat ini,” ujarnya.

Untuk kawasan Ngawi, Hermawan menyebut terdapat tiga titik yang masih dipantau. Lokasinya berada di arah Gunung Anakan hingga menuju kawasan Ukir Bayi, dengan jarak yang masih cukup jauh. Tim gabungan saat ini terus mengikuti perkembangan titik api untuk memastikan kebakaran tidak kembali bergerak menuju kawasan Magetan.

Upaya pengendalian dilakukan dengan membuat ilaran atau sekat bakar pada lokasi yang masih memungkinkan dijangkau petugas. Sekat tersebut dibuat dengan lebar sekitar lima hingga enam meter. Selain sekat buatan, keberadaan sungai di kawasan perbatasan Magetan dan Ngawi menjadi pembatas alami untuk menghambat pergerakan api.

Menurut Hermawan, kawasan yang terbakar di sisi Magetan telah berhasil “diblok” sehingga api tidak lagi meluas ke wilayah tersebut.

“Jadi aliran di Magetan ini tidak, jadi ngeblok menurut aliran sungai. Sungai ini menjadi pemutus ilaran alami di perbatasan antara Ngawi dan Magetan,” jelasnya.

Pemadaman dilakukan bersama oleh Perhutani, BPBD, TNI, Polri dan masyarakat. Namun, petugas menghadapi medan yang curam serta akses menuju lokasi yang terbatas.

Kondisi kawasan di bagian atas lereng Lawu juga menjadi perhatian. Jika titik awal kebakaran didominasi hutan pinus, kawasan yang kini terbakar lebih tinggi telah memasuki hutan lindung dengan vegetasi berupa savana, ilalang kering dan sebagian cemara. Vegetasi tersebut relatif mudah terbakar, terlebih ketika angin bertiup kencang. Karena itu, petugas terus memperkuat sekat bakar dan memantau arah pergerakan api.

Hermawan mengatakan, kondisi angin yang cukup kuat menjadi salah satu faktor yang menyulitkan pemadaman. Petugas berharap hujan turun untuk membantu mengurangi potensi penyebaran api.

Terkait penyebab kebakaran, Hermawan menyebut kebakaran di wilayah tersebut diduga tidak berasal dari faktor alam. Ia mengarah pada dugaan adanya unsur kesengajaan manusia. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena penyelidikan masih berjalan dan belum ada tersangka yang diamankan.

“Kalau penyebabnya ya rata-rata kesengajaan manusia. Yang jelas bukan faktor alami. Tapi kalau ketahuan ya mesti tertangkap. Kalau motifnya, tersangkanya belum tertangkap, jadi kita masih belum tahu. Kalau menduga-duga juga kasihan nanti kita kalau salah,” ujar Hermawan.

Dengan sebagian kawasan Magetan telah bersih dari api, perhatian penanganan kini bergeser ke titik-titik kebakaran di kawasan hutan lindung Ngawi. Pemantauan tetap dilakukan di kedua sisi perbatasan untuk mengantisipasi perubahan arah api akibat kondisi angin. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Layanan Adminduk di Kecamatan Kembali Dibuka, Akses Warga Kini Lebih Mudah

    Layanan Adminduk di Kecamatan Kembali Dibuka, Akses Warga Kini Lebih Mudah

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Setelah terhenti sejak Maret 2025, pelayanan administrasi kependudukan (Adminduk) di tingkat kecamatan di Kabupaten Magetan akhirnya kembali berjalan. Mulai November 2025, warga di sejumlah wilayah dapat kembali mengurus berbagai dokumen tanpa harus mendatangi Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Magetan. Disdukcapil Magetan memastikan bahwa dari 18 kecamatan, 10 diantaranya kembali […]

    Bagikan
  • Hujan Deras Akibatkan Pohon Tumbang hingga Banjir Rendam Rumah warga

    Hujan Deras Akibatkan Pohon Tumbang hingga Banjir Rendam Rumah warga

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab Madiun – Luapan Sungai Mancaan di Desa/Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Jawa Timur Selasa malam (14/1/2025) mengakibatkan puluhan rumah terdampak banjir. Bahkan air masuk ke sebagian rumah warga setempat. Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga setempat lumpuh total. “Tadi sore hujan lumayan deras sekitar 3 jam. Ya akibatnya luapan air dari sungai Mancaan” […]

    Bagikan
  • Mess Pekerja Proyek di Ponorogo Terbakar

    Mess Pekerja Proyek di Ponorogo Terbakar

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ponorogo – Sebuah mess atau tempat tinggal sementara untuk pekerja proyek pembuatan beton di Jalan Teratai, Kelurahan Purbosuman, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, hangus terbakar pada Rabu (16/07/2025) petang. Api dengan cepat membesar dan melalap seluruh bangunan yang mayoritas terbuat dari seng. Bangunan yang diketahui milik Sutono (50), warga Wonogiri, Jawa Tengah, tersebut […]

    Bagikan
  • Warung Esek-Esek di Ponorogo Berdiri Diatas Lahan Asetnya, Ini Langkah PT KAI

    Warung Esek-Esek di Ponorogo Berdiri Diatas Lahan Asetnya, Ini Langkah PT KAI

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ponorogo – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasional (Daop) 7 Madiun menanggapi terkait keberadaan warung di wilayah Desa Demangan, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo yang diduga lokasi prostitusi. Apalagi, warung remang-remang itu mendapatkan protes dari puluhan warga pada Senin (05/05/2025). Lebih ironisnya, ditemukan 13 pekerja seks komersial (PSK) positif HIV dari hasil […]

    Bagikan
  • Pemkab Madiun Siapkan Lahan 5 Hektar untuk Sekolah Rakyat

    Pemkab Madiun Siapkan Lahan 5 Hektar untuk Sekolah Rakyat

    • calendar_month Jumat, 25 Apr 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Pemerintah Kabupaten Madiun bergerak cepat menindaklanjuti instruksi Presiden terkait rencana pelaksanaan program Sekolah Rakyat. Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 5 hektar di wilayah Kelurahan Nglames, Kecamatan Madiun. Langkah ini sebagai bentuk komitmen Pemkab Madiun dalam mendukung pendidikan yang merata dan terjangkau bagi masyarakat. “Lahan […]

    Bagikan
  • Cuaca Ektreme Belum Reda, Puluhan Bencana Kepung Ponorogo Sepanjang Maret

    Cuaca Ektreme Belum Reda, Puluhan Bencana Kepung Ponorogo Sepanjang Maret

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Sebanyak 36 kejadian bencana tercatat melanda Kabupaten Ponorogo sepanjang Maret 2026. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan, cuaca ekstrem menjadi penyumbang terbesar dengan 18 kejadian, disusul 11 kasus banjir dan 7 kejadian tanah longsor. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan jika dirata-rata, kejadian bencana terjadi hampir setiap hari. Namun dalam […]

    Bagikan
expand_less