Memasuki Hari Ketiga Kebakaran Lereng Lawu, Titik Api di Magetan Padam
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 24
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Memasuki hari ketiga, kebakaran hutan di lereng Gunung Lawu di wilayah Magetan berhasil dikendalikan. Namun, sejumlah titik api masih muncul dan bergerak ke utara, memasuki wilayah Ngawi.
Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti memantau kondisi dari Posko Penanganan Kebakaran Hutan di Desa Ngliliran, Kecamatan Panekan, Rabu (16/9/2026). Ia mengatakan, hingga siang hari api di Magetan sudah tidak terlihat, tetapi pemantauan tetap dilakukan karena lokasi berada di perbatasan kedua daerah.
“Untuk wilayah Magetan apinya sudah tidak ada lagi, tapi perlu kita terus pantau dan waspadai karena sekarang apinya berjalan ke wilayah utara, yaitu ke Ngawi,” kata Nanik.
Petugas gabungan yang diterjunkan fokus membuat ilaran atau sekat bakar untuk mencegah api kembali masuk ke Magetan. Pemkab juga telah berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Timur terkait opsi water bombing. Karena api di Magetan padam, dukungan tersebut diarahkan ke Ngawi.
“Kemarin juga sudah ke Pemprov, kita minta bantuan water bombing. Karena di Magetan ternyata sudah padam apinya, insyaallah nanti water bombing-nya untuk Ngawi. Tapi Ngawi dengan Magetan satu lokasi, jadi meskipun yang mendapat Ngawi, kita juga mendapatkan manfaatnya,” jelas Nanik.
Waka Administratur Lawu Ds Hermawan menyebut luas kawasan terdampak mencapai 13 hingga 15 hektare, sebagian besar berada di Ngawi. Kawasan Magetan, termasuk Petak 51A, telah bersih dari api dan asap.

“Kalau sampai siang hari ini sekitar 13 sampai 15 hektare. Termasuk sudah di kawasan hutan lindung, tapi masuk di Kabupaten Ngawi,” ujar Hermawan.
Sungai di perbatasan Magetan-Ngawi dimanfaatkan sebagai ilaran alami. Namun, titik api masih muncul di kawasan Ngawi menuju Gunung Anakan dan kembali terpantau titik api baru di Petak 66, Sidomulyo, Magetan.
Tim gabungan Perhutani, BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat melakukan pemadaman manual serta membuat ilaran selebar lima hingga enam meter. Pada Rabu, sekat bakar ditargetkan mencapai tiga hingga empat kilometer.
Pemadaman terkendala medan curam, akses terbatas, serta angin kencang yang dapat mempercepat pergerakan api. Vegetasi di kawasan atas berupa savana, ilalang kering, dan cemara juga mudah terbakar.
“Selain curam, aksesibilitas untuk jalan manusia memang jarang,” ujar Hermawan.
Pemkab Ngawi telah mengajukan water bombing kepada BPBD Jawa Timur. Namun, armada masih digunakan untuk menangani kebakaran di Gunung Buthak, Malang.
“Untuk water bombing, Kabupaten Ngawi sudah mengajukan ke BPBD Provinsi. Ini masih proses karena posisi water bombing ada di Gunung Butak Malang yang juga masih proses pemadaman,” kata Hermawan.
Hingga Rabu siang, tim terus memantau pergerakan api dan potensi penyalaan kembali. Kerugian akibat kebakaran masih dalam pendataan. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





