Harga Telur dan Sayur Anjlok, ASN Diminta Beli Hasil Petani
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 32
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Penutupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama libur sekolah berdampak pada anjloknya harga telur ayam dan sejumlah komoditas sayuran di Kabupaten Ponorogo. Melimpahnya hasil produksi yang tidak terserap membuat peternak dan petani mengalami kerugian.
Dalam beberapa hari terakhir, harga telur ayam di tingkat pengecer turun menjadi sekitar Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram. Padahal sebelumnya harga masih berada di kisaran Rp26.000 hingga Rp28.000 per kilogram. Bahkan, saat membuka lapak di kawasan Alun-Alun Ponorogo pada Minggu pagi, peternak menjual telur hanya Rp20.000 per kilogram agar stok yang terus menumpuk dapat segera terjual.
Salah seorang peternak ayam petelur, Ahmad Syarbi’i, mengatakan harga telur saat ini sudah jauh di bawah harga pokok produksi (HPP). Menurutnya, tanpa adanya penyerapan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), stok telur di kandang terus bertambah setiap hari sehingga harga semakin terpuruk.
“Kalau tidak ingin rugi, minimal harga telur berada di kisaran Rp24.500 per kilogram. Sekarang kami sudah menjual eceran Rp20.000 per kilogram, tetapi stok masih menumpuk,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami petani sayuran. Permintaan pasar yang menurun membuat hasil panen tidak terserap, sementara pasokan terus melimpah. Akibatnya, petani memilih menjual langsung kepada masyarakat dengan harga di bawah pasar.
Harga wortel yang biasanya dijual Rp16.000 hingga Rp20.000 per kilogram kini hanya Rp10.000 per kilogram. Kubis turun menjadi Rp8.000 per kilogram dari harga pasar sekitar Rp12.000 per kilogram. Penurunan juga terjadi pada sawi dan kentang yang dijual lebih murah sekitar Rp2.000 hingga Rp4.000 per kilogram dibanding harga pasar.
Petani, Subarno, mengaku terpaksa membuka lapak di pinggir jalan karena hasil panen tidak lagi terserap ke SPPG selama masa libur sekolah.
“Pembelinya berkurang karena dapur MBG tutup. Akhirnya kami jual langsung di pinggir jalan dengan harga lebih murah supaya tetap laku,” katanya.
Untuk mengurangi dampak kerugian yang dialami petani dan peternak, Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menginstruksikan aparatur sipil negara (ASN) serta pelaku usaha kuliner agar membeli langsung telur, sayuran, dan komoditas pangan lainnya dari petani dan peternak lokal.
Menurut Lisdyarita, selama ini para petani dan peternak telah mempersiapkan pasokan untuk program MBG. Namun, libur sekolah menyebabkan distribusi terhenti sehingga stok berbagai komoditas menumpuk.
“Kami mengajak ASN bersama-sama menyerap telur dan sayuran dari petani lokal agar hasil produksi mereka tetap terserap sambil menunggu program MBG kembali berjalan,” ujarnya.
Kebijakan tersebut mulai diterapkan dan akan berlangsung hingga kondisi harga kembali stabil atau penyerapan hasil pertanian dan peternakan kembali normal. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





