Ratusan Tahun Terjaga, Tradisi “Kawin Air” Warisan Sakral dari Carangrejo
- account_circle Ega Patria
- calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
- visibility 39
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Di tengah derasnya arus modernisasi, warga Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, masih teguh menjaga sebuah tradisi tua yang sarat makna: Kawin Air. Upacara ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Sebuah warisan spiritual yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Pagi itu, Jumat (31/10/2025), suasana Bendungan Somorobangun di Desa Biting, Kecamatan Badegan, tampak ramai. Ratusan warga berjalan beriringan, sebagian membawa kendi tanah liat berisi air dari sungai, sebagian lainnya membawa sesaji. Tua muda berbaur dalam khidmat, menapak jejak leluhur mereka yang sejak lama meyakini air sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan disyukuri.
Ritual Kawin Air dimulai dengan doa bersama dan kenduri sederhana. Setelah itu, air dari aliran Sungai Somorobangun diambil dengan kendi, lalu dibawa ke Desa Carangrejo untuk “dikawinkan” dengan air dari Sendang Beji. Prosesi ini dipercaya sebagai simbol penyatuan dua sumber kehidupan yang memberikan berkah bagi pertanian dan kelangsungan hidup warga.
“Ini adalah tradisi mengawinkan dua sumber mata air, yaitu Sungai Somorobangun dan Sendang Beji. Sebelum pengairan dilakukan, warga mengadakan kenduri sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar selalu diberi kelancaran serta kehidupan,” tutur Muhammad Mukhlis, salah satu petani Carangrejo, sambil menata kendi di pinggir sendang.
Menurut warga, asal-usul tradisi ini berakar dari legenda Mbah Doblang, tokoh yang dipercaya membawa tongkat sakti dari Sungai Somorobangun hingga ke Carangrejo. Dari seretan tongkat itu, konon muncullah aliran air yang menyuburkan desa.
“Dulu daerah sini masih hutan. Tapi karena Mbah Doblang membawa pulang tongkat mistiknya, muncullah sungai. Dari situ, warga mendapat pengairan dari Somorobangun. Sekarang dimodifikasi, dikawinkan dengan Embung Beji agar semakin membawa berkah,” jelas Kamsun, Kepala Desa Carangrejo.
Bagi warga Carangrejo, air bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga simbol keseimbangan dan kesucian. Melalui Kawin Air, mereka belajar untuk tidak hanya mengambil dari alam, tetapi juga memberi penghormatan atas berkah yang diterima.
Kini, di tengah gempuran perubahan zaman, tradisi Kawin Air terus dijaga. Setiap tetes air yang “dikawinkan” menjadi pengingat bahwa keberlanjutan hidup manusia bergantung pada bagaimana ia memperlakukan alam.
Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, melainkan juga doa panjang yang mengalir dari masa ke masa, dari tangan para leluhur hingga ke generasi hari ini — agar Carangrejo tetap subur, lestari, dan penuh berkah.
Ega Patria – Sinergia
- Penulis: Ega Patria


