Ricuh di Puncak Lawu Gegara Berebut Spot Foto, Pendaki Diminta Jaga Etika
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 69
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Suasana di puncak Gunung Lawu mendadak ricuh setelah dua rombongan pendaki terlibat cekcok yang berujung aksi saling dorong. Peristiwa tersebut terekam video dan viral di media sosial pada Senin (27/4/2026).
Informasi yang dihimpun, keributan terjadi di kawasan puncak Hargo Dumilah, titik tertinggi Gunung Lawu yang menjadi favorit pendaki untuk berfoto. Insiden dipicu kesalahpahaman antar rombongan yang sama-sama ingin menggunakan spot foto ikonik di lokasi tersebut.
Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah pendaki terlibat adu mulut hingga saling dorong. Beberapa pendaki lain berupaya melerai agar situasi tidak semakin memanas. Tidak ada laporan korban serius dalam kejadian ini.
Dua kelompok yang terlibat diketahui berasal dari luar daerah, masing-masing dari Bogor dan Bandung. Setelah kejadian, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan telah membuat klarifikasi serta permintaan maaf yang beredar di media sosial.
Asisten Perhutani (Asper) Lawu Daerah Selatan, Mulyadi, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia menyayangkan terjadinya keributan di kawasan gunung yang seharusnya dijaga ketenangan dan etika bersama.
“Pendakian gunung bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga bagaimana menjaga sikap dan saling menghormati sesama pendaki. Kami mengimbau agar setiap pengunjung mengedepankan etika, sabar, dan tidak egois, terutama di titik-titik ramai seperti puncak,” ujar Mulyadi saat dikonfirmasi.
Pihak Perhutani bersama pengelola jalur pendakian juga akan meningkatkan pengawasan dan sosialisasi kepada pendaki, terutama terkait tata tertib dan etika selama berada di kawasan konservasi.
Mulyadi menambahkan, momentum ini harus menjadi pengingat bersama bahwa aktivitas di alam bebas membutuhkan kesadaran kolektif. “Gunung adalah ruang bersama, bukan milik pribadi. Jadi penting untuk saling menghargai, termasuk saat bergantian menggunakan spot foto,” tegasnya.
Peristiwa ini pun menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menyayangkan perilaku tidak terpuji tersebut dan mengingatkan pentingnya menjaga norma serta nilai-nilai kebersamaan saat mendaki.
Dengan meningkatnya minat pendakian, pengelola berharap kejadian serupa tidak terulang. Edukasi terkait etika pendakian dinilai menjadi kunci agar aktivitas wisata alam tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





