Sepasma Madiun Jadi Ruang Lahirkan One Village One Creative Hub, UMKM Soroti Pemasaran hingga Digitalisasi
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
- visibility 86
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Pemerintah Kabupaten Madiun memanfaatkan momentum Sepasma (Sepasar Ing Madiun) tidak hanya sekedar hiburan dan bazar UMKM. Namun gelaran yang berlangsung selama 7 hari di Kabupaten Madiun Wilayah tengah tepatnya di Desa Desa Tiron, Kecamatan Madiun menjadi ajang untuk mempertemukan pelaku usaha, pegiat seni, dan pemerintah dalam forum Bincang Ekonomi Kreatif (Ekraf) guna memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Mengusung tema “Ekonomi Kreatif Membangun Embrio One Village One Creative Hub”, forum ini menjadi wadah diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM. Mulai dari pemasaran produk, penguatan branding, digitalisasi usaha, akses permodalan, hingga pengembangan produk kreatif berbasis potensi lokal.
Puluhan pelaku UMKM dari Kecamatan Madiun, Kare, Wungu, Sawahan, dan Wonoasri mengikuti diskusi yang berlangsung interaktif. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan persoalan sekaligus bertukar pengalaman dengan para narasumber Kamis (2/7/2026).
Kabid Pemasaran Wisata Disparpora Kabupaten Madiun, Dian Widayanti, mengatakan konsep One Village One Creative Hub diharapkan mampu mendorong setiap desa memiliki identitas ekonomi kreatif sesuai potensi yang dimiliki.
“Kabupaten Madiun memiliki potensi ekonomi kreatif yang sangat beragam. Melalui forum seperti ini kami ingin mendorong setiap desa memiliki identitas dan pusat kreativitasnya sendiri. Ketika potensi lokal dikembangkan secara bersama-sama, dampaknya tidak hanya pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat sektor pariwisata daerah,” ujar Dian.

Dalam forum tersebut turut hadir pemilik Bluder Akbar, Moh Faizal Mabruri, yang membagikan pengalamannya mengembangkan usaha kuliner lokal. Ia menilai daya saing UMKM tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan pasar.
“Produk yang baik harus dibarengi dengan kualitas yang konsisten, kemasan yang menarik, serta pemasaran yang mengikuti perkembangan zaman. Peluang UMKM Kabupaten Madiun sangat besar, asalkan terus mau belajar, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Sementara itu, pemilik U2 Java Studio, Rere Esti Rianingtias, menekankan bahwa sektor seni dan budaya memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif. Menurutnya, kolaborasi antara pelaku seni, UMKM, dan pemerintah dapat melahirkan produk kreatif yang memiliki ciri khas daerah.
“Seni dan budaya bukan hanya warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga aset ekonomi. Ketika pelaku seni, UMKM, dan pemerintah berkolaborasi, akan lahir produk-produk kreatif yang memiliki identitas khas Kabupaten Madiun dan mampu bersaing hingga tingkat nasional,” ujarnya.

Melalui forum Bincang Ekraf ini, Pemerintah Kabupaten Madiun berharap konsep One Village One Creative Hub dapat mulai diterapkan di desa-desa sebagai pusat pengembangan kreativitas berbasis potensi lokal. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, meningkatkan daya saing UMKM, sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat.(Tim).
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez




