Tanah Gerak di Saradan Madiun Kian Parah, 4 Rumah Terancam dan Jalan ke Caruban Nyaris Putus
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 38
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Sejumlah rumah warga di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terancam roboh akibat pergerakan tanah yang kian parah. Selain merusak permukiman, retakan juga muncul di jalan penghubung antar desa dan mengancam akses warga menuju Caruban.
Peristiwa tanah bergerak itu terjadi di RT 17 Desa Sumberbendo. Gerakan tanah sebenarnya sudah terpantau sejak tahun lalu, namun dalam beberapa bulan terakhir intensitasnya meningkat hingga menyebabkan penurunan tanah sedalam dua hingga tiga meter.
Kepala Desa Sumberbendo, Suprapto, mengatakan saat ini sedikitnya empat rumah masuk dalam zona rawan bencana tanah gerak. Dua rumah di antaranya terdampak langsung, yakni milik warga bernama Sarmo dan Sugeng.
“Untuk kejadian terakhir tadi malam, tanah bergerak di RT 17 sebelah selatan pasar desa sebenarnya sudah mulai tahun kemarin. Tahun lalu dua rumah terdampak, satu sudah dipindah ke depan, satu masih di lokasi,” ujar Suprapto.
Ia menjelaskan, pemerintah desa sebelumnya telah menyarankan relokasi kepada warga yang terdampak. Namun, tidak semua bersedia pindah. Salah satu warga yang rumahnya masih berada di titik rawan memilih bertahan.
Pada kejadian terbaru, pergerakan tanah kembali terjadi dan memicu retakan besar yang mendekati tembok rumah warga. Tanah ambles dan retak dilaporkan membentang sepanjang kurang lebih 50 meter.
Tak hanya permukiman, jalan penghubung desa yang biasa dilalui warga menuju Kota Caruban juga terdampak. Kondisinya kini nyaris terputus apabila tidak segera dilakukan penanganan, terlebih saat curah hujan tinggi.
“Untuk jalan ruas tersebut hampir putus. Kalau tidak segera ditangani, mungkin kurang dari seminggu kalau ada hujan deras bisa benar-benar putus,” kata Suprapto Jumat (27/2/2026).

Akibat kondisi tersebut, satu keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Pemerintah desa telah melaporkan kejadian ini kepada instansi terkait, termasuk dinas pekerjaan umum, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), camat, hingga Bupati Madiun.
Sementara itu, untuk mencegah retakan semakin melebar, relawan BPBD bersama aparat desa dan warga melakukan penanganan darurat dengan menutup bagian tanah yang retak menggunakan terpal. Langkah itu dilakukan sebagai upaya sementara sambil menunggu penanganan lebih lanjut dari pemerintah daerah.
Warga berharap ada solusi permanen, termasuk kemungkinan relokasi bagi rumah yang berada di zona paling rawan, agar risiko korban jiwa dapat dihindari apabila pergerakan tanah kembali terjadi. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez


