Wabup Magetan Minta Relawan Bencana Tak Kendur, Soroti Pentingnya Respons Cepat dan Gotong Royong
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 59 menit yang lalu
- visibility 26
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro mengingatkan pentingnya memperkuat kesiapsiagaan seluruh elemen dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim penghujan. Selain memastikan kesiapan personel dan peralatan, kesadaran masyarakat serta kecepatan koordinasi hingga tingkat desa dan lingkungan menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko bencana.
Pesan tersebut disampaikan Suyatni saat memimpin Apel Kesiapan Tanggap Darurat Antisipasi Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Magetan Tahun 2026 di halaman Polres Magetan, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, apel kesiapsiagaan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi sarana untuk mengingatkan sekaligus membangkitkan kembali kesadaran seluruh komponen penanggulangan bencana terhadap potensi ancaman di wilayah masing-masing.
Seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, TNI, relawan, hingga masyarakat, harus memahami peran dan tanggung jawabnya dalam menghadapi situasi darurat. Terlebih, setiap wilayah memiliki karakteristik dan potensi kerawanan bencana yang berbeda.
Suyatni menilai, meskipun sebagian besar personel dan relawan telah memiliki pengalaman dalam penanganan bencana, penguatan kesiapsiagaan tetap diperlukan. Semangat kemanusiaan dan solidaritas harus terus dijaga agar seluruh unsur tetap sigap ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Dia juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi psikologis para relawan yang kerap menghadapi berbagai risiko dan tantangan di lapangan. Menurutnya, tugas penanggulangan bencana bukan pekerjaan ringan karena membutuhkan tenaga, waktu, keberanian, serta pengorbanan.
Di tengah keterbatasan dan situasi darurat, relawan terkadang juga harus menghadapi kritik maupun cibiran masyarakat ketika penanganan belum berjalan sempurna.

“Ini tugas kemanusiaan. Mereka sudah menghadapi berbagai kesulitan dan risiko di lapangan. Karena itu, jangan sampai justru dicibir ketika ada kekurangan dalam pelaksanaan. Kita harus saling menguatkan, membangun rasa persatuan dan gotong royong,” ujar Suyatni.
Selain memperkuat koordinasi antarlembaga, Suyatni menekankan pentingnya peran aparatur kewilayahan dalam mendeteksi potensi bencana sejak dini.
Kepala satuan wilayah, camat, kepala desa, hingga perangkat lingkungan seperti ketua RW dan RT diharapkan mampu mengenali kondisi rawan bencana di wilayah masing-masing. Dengan begitu, potensi ancaman dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi kejadian yang lebih besar.
Jika menemukan persoalan yang tidak mampu ditangani di tingkat awal, aparatur wilayah diminta segera berkoordinasi dengan pimpinan atau instansi terkait. Kecepatan penyampaian informasi dan respons dinilai sangat menentukan keberhasilan penanganan bencana.
Suyatni mengingatkan, keterlambatan dalam mengidentifikasi masalah maupun lambannya respons birokrasi dapat memperparah dampak bencana. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kerusakan sekaligus membengkakkan anggaran penanganan.
Dia mencontohkan, persoalan yang sebenarnya bisa diantisipasi melalui langkah pencegahan dan penanganan dini dapat berkembang menjadi bencana lebih besar apabila tidak segera ditindaklanjuti.
Di sisi lain, Suyatni juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap mekanisme birokrasi dan penganggaran dalam penanggulangan bencana. Menurutnya, pemerintah harus memastikan prosedur yang ada tidak justru menghambat langkah cepat ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat.
Dia menyinggung penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebagai salah satu instrumen pembiayaan penanganan bencana. Namun, mekanisme dan ketentuan yang berlaku perlu dievaluasi agar pelaksanaannya lebih responsif terhadap kebutuhan di lapangan.
“Ini tentu harus diperbaiki bersama, baik dalam regulasi, pekerjaan maupun program. Jangan sampai persoalan prosedur dan respons birokrasi yang tidak tepat justru membuat dampak bencana semakin fatal dan membutuhkan anggaran lebih besar,” tegasnya.
Suyatni berharap, momentum apel kesiapsiagaan dapat memperkuat sinergi seluruh unsur penanggulangan bencana di Magetan. Tidak hanya pemerintah dan petugas di lapangan, masyarakat juga diharapkan memiliki pengetahuan serta kesadaran untuk mengenali ancaman di lingkungannya.
Dengan deteksi dini, koordinasi berjenjang, respons cepat, dan semangat gotong royong, dampak bencana hidrometeorologi diharapkan dapat ditekan selama musim penghujan. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krz/Diez





