Apel Siaga Loyalis PSHT Pusat Madiun, Soroti Hasil Munas IPSI hingga Dukungan ke Ketum R. Moerdjoko
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 43
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun — Ribuan pesilat memadati Padepokan Agung Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Jalan Merak, Kota Madiun, Sabtu (2/5/2026). Massa yang datang dari berbagai ranting di wilayah Kota dan Kabupaten Madiun tersebut mengikuti Apel Siaga Loyalis PSHT Pusat Madiun menjelang bulan Suro atau Muharram 1448 Hijriah.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga sarana penyampaian aspirasi terkait dinamika organisasi, termasuk hasil Musyawarah Nasional Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan sejumlah persoalan di lapangan.
Koordinator Apel Siaga, Puguh Tri Prayogo, mengatakan bahwa kegiatan ini digelar sebagai langkah preventif untuk mencegah potensi konflik horizontal yang dipicu kesalahpahaman terhadap kebijakan yang menyangkut organisasi. Ia menyinggung sejumlah kejadian di daerah lain seperti Saradan, Pasuruan, Pemalang, dan Ngawi yang dinilai muncul akibat perbedaan penafsiran kebijakan.
“Kami tidak berharap ada konflik horizontal. Jangan sampai salah mengartikan kebijakan lalu bertindak di luar batas, termasuk melarang latihan, yang akhirnya memancing reaksi dari loyalis,” tegasnya.
Puguh juga menyoroti pengaruh opini di media sosial yang dinilai kerap memperkeruh situasi di lapangan. Ia mengingatkan agar anggota tidak mudah terprovokasi.
“Kalau tidak kita kawal, bisa terjadi reaksi masing-masing yang berpotensi menimbulkan chaos. Ini yang kita hindari agar Madiun tetap aman dan kondusif,” katanya.
Hal itu juga ditegaskan salah satu tokoh PSHT Pusat Madiun, Tono Suharyanto yang menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaga stabilitas keamanan menjelang bulan Suro, sekaligus memperkuat soliditas internal organisasi.
“Tujuan utama kami agar Madiun tetap aman, tidak ada gangguan kamtibmas, dan anggota tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, loyalis PSHT Pusat Madiun menyampaikan sejumlah sikap. Mereka meminta Pengurus Besar IPSI meninjau kembali keputusan terkait keabsahan organisasi PSHT. Hal ini mengingat persoalan badan hukum masih dalam proses sengketa di pengadilan. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan polemik berkepanjangan antara kepengurusan Ketum R. Moerdjoko dan Ketum M. Taufiq yang.
“Kami berharap tidak ada keberpihakan sebelum ada keputusan hukum yang final,” kata Tono.
Selain itu, loyalis menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan aparat penegak hukum dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Madiun Raya.
Mereka juga menegaskan dukungan penuh terhadap kepemimpinan R. Moerdjoko sebagai Ketua Umum PSHT Pusat Madiun dan Issoebiantoro sebagai Ketua Dewan Pusat PSHT. Hal itu sesuai dengan hasil Parapatan Luhur yang digelar pada 6–8 Februari 2026 di Padepokan Agung PSHT.
Terkait insiden di Saradan, Tono mengungkapkan adanya dugaan intimidasi saat latihan berlangsung yang kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Ia memastikan kasus tersebut akan terus dikawal agar tidak terulang di wilayah lain.
“Kami ingin kejadian di Saradan tidak terjadi lagi di ranting lain. Harapannya Madiun tetap kondusif,” pungkasnya. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





