Waspada ! Kasus Leptospirosis di Ngawi Meningkat, Enam Petani Terinfeksi hingga Mei 2026
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 105
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi — Kasus leptospirosis atau penyakit yang dikenal luas sebagai “kencing tikus” mulai menunjukkan tren peningkatan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Hingga pertengahan Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sedikitnya enam petani terkonfirmasi terinfeksi bakteri leptospira.
Kepala Dinkes Ngawi, Heri Nur Fahrudin, menyebut angka tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Seluruh kasus diketahui berkaitan dengan aktivitas para petani di area persawahan yang diduga terkontaminasi urine tikus.
“Memang ada peningkatan. Sampai bulan Mei ini sudah tercatat enam kasus,” ujar Heri, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri leptospira yang hidup dan berkembang dalam urine hewan, terutama tikus. Penularan terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, yang kerap dialami petani saat bekerja di sawah dengan kondisi kaki terendam air dan lumpur.
Menurut Heri, tingginya populasi tikus di area pertanian menjadi faktor utama penyebaran penyakit tersebut. Risiko penularan semakin besar pada petani yang memiliki luka kecil atau lecet di bagian kaki.
“Seluruh pasien merupakan petani dan telah mendapatkan penanganan di sejumlah puskesmas, seperti Ngrambe, Sine, Tambakboyo, Mantingan, dan Karanganyar. Saat ini kondisinya sudah sembuh,” jelasnya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, Dinkes mengingatkan bahwa leptospirosis bukan penyakit yang bisa dianggap ringan. Gejalanya kerap muncul secara tiba-tiba, seperti demam tinggi, nyeri otot, lemas, serta pegal di bagian kaki. Dalam kondisi lebih parah, penderita dapat mengalami gangguan organ yang ditandai dengan mata dan kulit menguning.
Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap keberadaan tikus di lingkungan permukiman maupun lahan pertanian. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan baik, serta menghindari kontak langsung dengan hewan pembawa bakteri.
Selain itu, para petani disarankan menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boot saat bekerja di sawah, terutama jika terdapat luka terbuka, sekecil apa pun.
“Jika terlambat ditangani, penyakit ini berpotensi menyebabkan gagal ginjal bahkan kematian,” tegas Heri. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





