Hari Buku Nasional di Madiun: Anak Muda Rayakan Literasi Lewat Diskusi Buku hingga Musik
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 70
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Semangat literasi anak muda di Madiun terlihat semakin hidup dalam peringatan Hari Buku Nasional yang digelar Minggu (17/5/2026). Melalui acara Madiun Book Party (MBP) yang berkolaborasi dengan Magetan Book Party, puluhan pecinta buku berkumpul di Aula Tiram Bintang Madiun untuk merayakan karya tulis sekaligus mendalami dunia kepenulisan.
Mengusung tema “Semua Buku dan Jiwa Dirayakan”, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pembaca, penulis, hingga pegiat literasi dari berbagai daerah di Madiun Raya seperti Magetan, Ponorogo, dan Ngawi.
Salah satu pemateri, penulis asal Kota Madiun, Anrico Alamsyah, mengatakan buku dan jiwa memiliki hubungan yang erat. Menurutnya, kehadiran komunitas literasi seperti MBP memberi harapan baru terhadap minat baca anak muda di Kota Pendekar.
“Dengan adanya Madiun Book Party ini, saya merasa ternyata banyak teman-teman muda yang masih gemar membaca buku,” ujar Anrico, Senin (18/5/2026).
Penulis berusia 26 tahun itu menilai komunitas buku mampu menjadi wadah bagi generasi muda untuk menumbuhkan budaya membaca sekaligus ruang berekspresi. Ia mengaku keresahannya selama ini tentang minimnya ruang literasi mulai terjawab lewat berkembangnya komunitas tersebut.
Menariknya, Anrico juga menyoroti cara baru mendekatkan literasi kepada generasi digital. Menurut dia, tidak semua orang nyaman membaca tulisan panjang, sehingga literasi dapat disampaikan lewat medium lain seperti musik dan lirik lagu.
Ia mengaku dua novel yang ditulisnya turut dikembangkan melalui lagu original soundtrack yang dikerjakan bersama musisi dan ilustrator lokal Madiun.
“Jadi, saya mengekspresikannya tidak hanya lewat buku, tetapi juga melalui lirik dalam sebuah lagu,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi, Anrico turut memberikan pesan kepada peserta agar tidak takut memulai proses kreatif. Ia mendorong anak muda untuk menulis terlebih dahulu tanpa terlalu memikirkan hambatan yang belum tentu terjadi.
“Jangan melihat tantangan sebagai penghambat, tapi jadikan itu motivasi untuk terus berkarya,” katanya.
Sementara itu, Community Coordinator MBP, Dede Alien Efansyah, menjelaskan bahwa kegiatan literasi juga dikaitkan dengan isu kesehatan mental. Karena itu, MBP menghadirkan pemateri dari kalangan penulis dan psikolog.
Menurut Dede, buku dapat menjadi sarana refleksi diri dan membantu proses self healing bagi pembacanya.
“Nilai-nilai dari buku bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bahan refleksi diri,” ujarnya.
Antusiasme peserta pun melampaui ekspektasi panitia. Sebanyak 45 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Sejak berdiri pada 2025, MBP telah melibatkan sekitar 457 peserta dari Kota Madiun dan total 858 peserta di wilayah Madiun Raya.
Melihat perkembangan itu, Dede berharap para anggota komunitas tidak hanya gemar membaca buku, tetapi juga mulai menghasilkan karya tulis sendiri, baik puisi, artikel, hingga novel.
“Harapannya, teman-teman bookmates bisa melahirkan karya ilmiah maupun karya sastra yang lahir dari kebiasaan membaca,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





