Memasuki Musim Kemarau, Kebakaran Lahan di Magetan Melonjak Tajam, Damkar Catat 49 Kasus hingga Akhir Juli
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Memasuki puncak musim kemarau, kasus kebakaran di Kabupaten Magetan mengalami peningkatan signifikan. Hingga akhir Juli 2026, Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP dan Damkar Kabupaten Magetan mencatat 49 kejadian kebakaran, atau hampir menyamai total kasus sepanjang tahun 2025 yang mencapai sekitar 60 kejadian.
Dari seluruh peristiwa tersebut, kebakaran lahan menjadi jenis kejadian yang paling mendominasi. Sebanyak 29 kasus terjadi di lahan tebu, rumpun bambu (bambrongan), maupun semak belukar yang sangat mudah terbakar akibat kondisi cuaca kering disertai angin kencang.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Kabupaten Magetan, Ali Sukamto, mengatakan lonjakan kasus mulai terlihat sejak memasuki musim kemarau. Jika pada periode Januari hingga April jumlah kebakaran relatif rendah dan didominasi kebakaran rumah akibat kelalaian saat memasak, maka sejak Mei hingga Juli tren kebakaran lahan meningkat tajam.
“Memang pada musim kemarau ini terjadi peningkatan kebakaran lahan, terutama di lahan tebu dan rumpun bambu. Sebagian besar dipicu oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan api, termasuk kebiasaan membakar sampah yang kemudian merambat ke rumpun bambu,” ujarnya.
Ali menjelaskan, kebakaran di lahan tebu diduga tidak hanya dipicu puntung rokok yang dibuang sembarangan, tetapi juga adanya unsur kesengajaan. Menurutnya, terdapat oknum yang membakar lahan tebu agar proses panen menjadi lebih mudah.
“Kasus di lahan tebu cukup banyak karena saat ini memasuki musim panen. Ada dugaan sebagian sengaja dibakar, selain juga karena puntung rokok. Padahal tindakan itu justru merugikan petani karena kualitas tebu menurun, kadar air berkurang, sehingga berat tebu ikut menyusut saat dijual,” jelasnya.
Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir, petugas Damkar beberapa kali harus menangani dua hingga tiga kejadian kebakaran lahan dalam satu hari. Luasan lahan yang terbakar secara akumulatif diperkirakan mencapai sekitar lima hektare, meski belum dilakukan pendataan rinci terhadap seluruh lokasi.
Menghadapi meningkatnya potensi kebakaran, Damkar Magetan menyiagakan delapan armada, terdiri dari lima kendaraan rescue dan tiga truk tangki air. Seluruh armada didukung 25 personel yang bersiaga selama 24 jam untuk menangani kebakaran maupun operasi penyelamatan lainnya.
Ali mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan api selama musim kemarau. Ia meminta warga tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area terbuka, serta menghindari praktik pembakaran lahan, khususnya di kawasan perkebunan tebu.
“Kami mengajak masyarakat bersama-sama mencegah kebakaran. Petani juga kami harapkan rutin mengawasi lahannya agar tidak dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membakar. Jika menemukan titik api, segera laporkan agar bisa ditangani lebih cepat sebelum meluas,” tegasnya.
Dengan kondisi vegetasi yang semakin kering dan musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, Damkar Magetan memperkirakan potensi kebakaran lahan masih cukup tinggi. Peran aktif masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk menekan jumlah kejadian sekaligus meminimalkan kerugian yang ditimbulkan. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez




