Krisis Air Bersih Belum Usai, 1.789 Warga Ngawi Masih Bergantung pada Bantuan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 27
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi – Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah belum sepenuhnya mengakhiri krisis air bersih di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Hingga Rabu (4/11/2026), sebanyak 1.789 jiwa yang tersebar di 23 desa pada tujuh kecamatan masih terdampak kekeringan. Warga pun masih bergantung pada distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terlihat di Desa Pandean, Kecamatan Karanganyar. Puluhan warga berbondong-bondong mendatangi bak penampungan untuk mendapatkan bantuan air bersih yang disalurkan anggota DPR RI, Budi Sulistyono atau Kanang, pada Minggu (1/11/2026).
Dengan membawa berbagai wadah, mulai dari jeriken hingga galon bekas air mineral, warga rela mengantre demi mendapatkan air. Sebanyak 10 ribu liter air yang didistribusikan di desa tersebut langsung habis dalam waktu singkat karena tingginya kebutuhan masyarakat.
Air bantuan itu digunakan warga untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, mandi, hingga memenuhi kebutuhan minum ternak. Kondisi ini menunjukkan betapa terbatasnya akses air bersih yang masih dihadapi masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Ngawi, Partoyo, mengatakan krisis air bersih masih terjadi meskipun hujan telah turun di beberapa wilayah. Intensitas hujan yang masih terbatas belum cukup untuk memulihkan sumber-sumber air milik warga.
“Meski sejumlah wilayah sudah turun hujan, krisis air bersih di Ngawi masih berlangsung. Hujan memang sudah turun dua kali, tetapi sumur-sumur warga masih mengering,” ungkap Partoyo.
Bahkan, hujan yang telah turun belum mampu mengisi kembali sumur warga yang telanjur mengering akibat kemarau berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih masyarakat masih harus dipenuhi melalui distribusi bantuan.
BPBD mencatat, total 1.789 jiwa di 23 desa pada tujuh kecamatan masih membutuhkan pasokan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, distribusi bantuan dilakukan secara rutin dengan volume mencapai sekitar 32 ribu liter air setiap hari.
Salah satu wilayah yang masih mengalami kesulitan air berada di Dusun Jati Suwak, Desa Suruh, Kecamatan Bringin. Selama kurang lebih tiga bulan terakhir, sumur milik warga mengering sehingga masyarakat tidak lagi bisa mengandalkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Dusun Jati Suwak, Sugiarto, mengungkapkan warga kini hanya bisa mengandalkan bantuan air dari pemerintah. Ketika pasokan bantuan tidak datang, mereka terpaksa mencari sumber air alternatif hingga ke kawasan pinggir waduk setempat.
“Untuk kebutuhan air, warga hanya mengandalkan bantuan. Kalau tidak ada bantuan, terpaksa mencari air ke pinggir waduk. Hujan baru sekali, tetapi sumber air di sini justru hilang,” ungkap Sugiarto.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan masyarakat karena sumber air alternatif yang tersedia juga tidak mudah dijangkau. Warga harus mencari dan membawa air dari kawasan waduk untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Adapun 23 desa yang masih terdampak krisis air bersih tersebar di Kecamatan Karanganyar, Pitu, Ngawi, Bringin, Kasreman, Padas, dan Karangjati.
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan distribusi air tangki sebagai penanganan darurat. Mereka menginginkan pembangunan sumur bor atau sumur dalam sebagai solusi jangka panjang agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Pasalnya, ketergantungan terhadap bantuan air bersih setiap tahun bukan hanya menyulitkan pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat di wilayah rawan kekeringan.
Sementara itu, BPBD Ngawi masih melakukan penyaluran air bersih untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi. Turunnya hujan diharapkan segera diikuti peningkatan ketersediaan air tanah sehingga warga dapat kembali memanfaatkan sumber air secara mandiri. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krz/Diez





