Dinah Nenek Berusia 86 Tahun Bertahan Lestarikan Serabi Magetan yang Kian Langka
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 42
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Aroma serabi yang dipanggang di atas tungku kayu bakar masih mengepul dari dapur sederhana milik Dinah, 86, warga Desa Tambakmas, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di tengah semakin langkanya perajin jajanan tradisional, perempuan lanjut usia ini tetap setia merawat cita rasa serabi khas Magetan yang telah diwariskan turun-temurun.
Di hadapan tiga wajan berbahan tanah liat, Dinah dengan telaten menuangkan adonan tepung beras. Bara kayu bakar menjadi sumber panas yang menjaga proses pemanggangan tetap berlangsung secara tradisional. Bukan sekadar aktivitas memasak, rutinitas tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kuliner khas Bumi Ki Mageti yang kini semakin sulit dijumpai.
Dinah bahkan disebut sejumlah warga sebagai salah satu perajin serabi khas Magetan yang masih bertahan. Tak sedikit pula yang menyebutnya sebagai satu-satunya pembuat serabi tradisional di wilayah tersebut yang masih aktif memproduksi jajanan legendaris ini.
Dinah mengaku mulai membuat serabi sejak 1965. Kala itu, ia masih muda dan menjajakan dagangannya dengan berkeliling hingga wilayah Kota Magetan. Seiring bertambahnya usia, aktivitas berjualan keliling tak lagi dilakukan. Kini, ia memilih mangkal di tepi jalan Desa Tambakmas.
Meski usianya telah menginjak 86 tahun, proses pembuatan serabi tetap dilakukan dengan tangannya sendiri. Ia masih mengandalkan tepung beras yang digiling dari beras pilihan, santan kelapa, serta sedikit garam untuk menghasilkan cita rasa gurih yang menjadi ciri khas serabi Magetan.
Dalam sehari, Dinah menghabiskan sekitar tiga kilogram tepung beras. Dari bahan tersebut, ia mampu menghasilkan lebih dari seratus serabi. Sementara untuk membuat kuah santan pendamping, ia membutuhkan sekitar dua butir kelapa tua yang diparut secara manual.
“Berasnya digiling sendiri. Sehari biasanya menghabiskan sekitar tiga kilogram tepung beras. Kalau tidak diberi garam, rasanya tidak enak. Serabi ini memang lebih enak kalau gurih, apalagi dimakan dengan kuah santan,” tutur Dinah.
Berbeda dengan serabi dari sejumlah daerah yang kerap disajikan dengan aneka topping manis, serabi Magetan buatan Dinah lebih menonjolkan rasa gurih. Sajian ini semakin nikmat ketika disiram kuah santan. Bagi pembeli yang menginginkan cita rasa manis, Dinah juga menyediakan tambahan gula merah.
Proses produksi pun tidak bisa dilakukan secara instan. Dinah biasanya mulai menyiapkan adonan dan memanggang serabi sejak sekitar pukul 11.00 WIB hingga malam hari, bahkan terkadang sampai pukul 20.00 WIB. Serabi yang telah matang kemudian didinginkan selama beberapa jam sebelum dijajakan keesokan paginya.
Setiap hari, Dinah mulai berjualan sekitar pukul 05.30 WIB. Dagangannya kerap habis dalam waktu relatif singkat. Jika pembeli sedang ramai, ratusan serabi yang disiapkan sejak sehari sebelumnya bisa ludes hanya dalam waktu satu hingga beberapa jam.
Pembelinya tidak hanya warga sekitar. Para pengguna jalan yang melintas dari wilayah desa tetangga, seperti Desa Bibis, Tamanan, hingga Kota Magetan juga kerap mampir untuk membeli jajanan tradisional tersebut. Bahkan, sejumlah perantau yang pulang kampung dari Surabaya dan daerah lain sengaja mencari serabi buatan Dinah karena rindu dengan cita rasa jajanan masa kecil.
“Kalau mulai jualan biasanya setengah enam pagi. Habisnya tidak tentu, kadang jam delapan atau jam sembilan sudah habis. Yang beli ya orang-orang sekitar sini, juga orang yang kebetulan lewat. Ada juga yang dari Surabaya, kalau pulang ke kampung biasanya mencari serabi ini karena kangen jajanan tradisional,” ungkapnya.
Pada momentum tertentu, seperti Lebaran dan libur tahun baru, permintaan serabi meningkat. Tak jarang, pembeli memesan dalam jumlah banyak untuk dibawa sebagai oleh-oleh ke perantauan. Dinah juga pernah menerima pesanan untuk keperluan pengajian hingga jajanan yang langsung dibeli di rumahnya.
Selain serabi, Dinah turut membuat gempol, jajanan berbahan dasar tepung beras yang menjadi pasangan serabi khas Magetan. Gempol memiliki tekstur lebih kasar karena proses penggilingan tepungnya berbeda. Jika di sejumlah daerah gempol lazim disajikan bersama es dawet, di Magetan jajanan ini justru dinikmati bersama serabi dan kuah santan gurih.
Harga yang ditawarkan pun masih sangat terjangkau. Dinah membanderol setiap serabi maupun gempol seharga Rp 1.000 per biji. Harga tersebut membuat pembeli cenderung membawa pulang dalam jumlah banyak, sekaligus membantu dagangannya lebih cepat habis.
Bagi Dinah, bertahan membuat serabi bukan semata-mata soal mempertahankan usaha. Aktivitas tersebut juga menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk belanja rumah tangga. Meski tak lagi muda, ia mengaku tetap bersemangat menjalani rutinitasnya.
“Ya tetap membuat serabi untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak membuat sendiri, ya tidak ada pemasukan. Sudah tua begini, saya tetap berusaha membuat serabi semampunya. Anak-anak juga kadang meminta serabi, jadi ya tetap membuat,” ujarnya.
Di balik kesederhanaan dapurnya, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan dan tradisi. Dinah belajar membuat serabi dari neneknya sejak muda. Pengalaman puluhan tahun membuatnya mampu mempertahankan rasa dan teknik pengolahan yang menjadi identitas serabi Magetan.
“Pokoknya serabi Magetan. Saya sudah membuat sejak dulu, mulai tahun 1965. Dulu masih keliling, sekarang sudah tidak kuat karena usia. Jadi jualan di dekat rumah saja. Selama masih bisa membuat, ya tetap membuat serabi,” pungkas Dinah.
Selama masih mampu, Dinah bertekad tetap membuat serabi. Baginya, setiap adonan yang dipanggang bukan hanya menghasilkan jajanan untuk dijual, tetapi juga menghadirkan kembali kenangan dan cita rasa khas Magetan yang telah melekat lintas generasi. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krz/Diez





