Bupati Madiun Minta RSUD Caruban Meniru Model Pelayanan dari Rumah Sakit Terbaik di Indonesia
- account_circle Mandor
- calendar_month 54 menit yang lalu
- visibility 35
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kab Madiun – Bupati Madiun Hari Wuryanto menyampaikan RSUD Caruban harus selalu menjaga standart pelayanan dan menjadi kebanggaan masyarakat, termasuk dirinya dan Wabup yang juga bagian dari masyarakat.
Bahkan wajib meniru pelayanan dari rumah sakit terbaik menurut Kementerian Kesehatan. “Harus profesional sepenuh hati. Aku gak iso ngarani ya, panjenengan sendiri,” kata Bupati Madiun, kepada jajaran dokter dan pegawai RSUD Caruban, Kamis (05/11/2026).
Bupati menegaskan, dibutuhkan integritas dari seluruh pegawai. DIa mengaku merasa takut jika pelayanan tidak dilakukan dengan ikhlas. Apalagi dokter sekolahnya lama, sulit, dan mahal, maka harus dibarengi dengan pengabdian.
“Ojo mergo kancane, Pak asisten ditangani. Nek dudu kancane ora ditangani,” tegas Hari Wur mengingatkan agar tidak ada pelayanan yang dibeda-bedakan karena pertemanan atau kedekatan.
Bupati juga menyoroti soal laporan BPJS yang sering mati secara otomatis dan akhirnya ditanggung Pemda. Ia meminta agar hal itu bisa diaktifkan kembali melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial.
“Pasien ditangani dulu, jangan ditanya BPJS-nya,” tegas Bupati. Keselamatan pasien harus diutamakan di atas urusan administrasi.
Standar pelayanan harus sama untuk semua pasien, jangan dibeda-bedakan. Rasa like and dislike antar pegawai atau terhadap pasien bisa menjadi masalah besar dalam pelayanan.
Bupati bahkan menceritakan pengalaman buruknya saat berobat sekitar tahun 90-an, di Rumah Sakit Kota Madiun dan itu menjadi pelajaran agar RSUD Caruban jangan sampai berbuat yang sama.
Ia meminta jajaran RSUD Caruban untuk belajar ke rumah sakit manapun yang Bed Occupancy Rate (BOR)-nya tinggi, di atas 70 persen. Ambil sisi baik pelayanannya untuk diterapkan di Caruban.
“RS Caruban tidak ada saingan. Jangan wes ngene ae wes akeh pasiennya,” ujarnya. Bupati lebih banyak mengedepankan ngemong roso atau pembinaan dengan rasa.

Terakhir, Bupati menantang jajarannya untuk bertanya ke Kementerian Kesehatan, rumah sakit mana yang terbaik di Indonesia. “Lha itu ditiru pelayanannya terbaik, ojo ngene ae wes apik pak, pak,” pungkasnya.
Sementara Wabup Madiun Purnomo Hadi menjelaskan bahwa RSUD Caruban memiliki peran vital karena melayani sekitar 8 kecamatan dan sekitar 15 puskesmas di wilayah sekitarnya. Tata kelola dan status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menjadi kunci utama.
Menurutnya, rumah sakit adalah sebuah ikatan yang kait mengait, sebuah sistem manajerial yang tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Maka tata kelolanya dibagi menjadi dua bagian besar.
Dua tata kelola tersebut adalah Good Corporate Government dan Good Clinical Government. Keduanya harus berjalan seimbang agar manajemen dan pelayanan klinis sama-sama baik.
“Kenapa harus dokter yang menjadi direktur rumah sakit, ya itu tadi alasannya,” tegas Purnomo Hadi. Dokter dinilai paling paham tentang tata kelola klinis sekaligus manajemen rumah sakit.

Wabup juga menekankan pentingnya transparansi dan kejelasan tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Harus ada tanggung jawab yang jelas antara masing-masing pejabat di rumah sakit, jangan sampai saling lempar tanggung jawab.
“Harus mandiri, tidak sitik-sitik ngadep Bupati,” ujarnya. RSUD Caruban harus bisa menyelesaikan persoalan internalnya secara mandiri, termasuk soal Jasa Pelayanan (Jaspel) yang harus diberikan secara adil kepada seluruh pegawai.
Keselamatan pasien harus menjadi nomor satu. Pelayanan harus betul-betul tepat sasaran dan harus ada medical record yang jelas agar keluarga pasien tahu kondisi dan tindakan medis yang diberikan.
Dengan status BLUD, anggaran yang ada harus digunakan untuk menjaga kemandirian dalam membeli sarana dan prasarana. Tujuannya tetap sama, yaitu menjaga mutu pelayanan kepada masyarakat. (Ndor).
- Penulis: Mandor
- Editor: Byg





