
Sinergia | Kab.Madiun – Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Madiun mempercepat intervensi penurunan stunting di Kecamatan Saradan lantaran menjadi kawasan dengan angka kasus tertinggi. Program pemberian makanan bergizi digelar di Balai Desa Sumbersari, menyasar 200 balita dari 15 desa.
Kepala Bakorwil I Madiun, Heru Wahono Santoso dalam sambutannya menyatakan penurunan angka stunting di Jawa Timur masih harus dikejar meski trennya turun. Ia menilai penanganan lintas sektor menjadi kunci mempercepat capaian.
“Tingkat stunting di Jawa Timur memang menurun, tetapi masih tergolong tinggi. Kabupaten Madiun berada di angka 5,28 persen. Karena itu kami bersama Pemkab Madiun melakukan intervensi, termasuk pemberian makanan bergizi bagi 200 balita di Saradan,” ujar Heru, Rabu (26/11/2025).
Pemprov Jatim menekankan program penanganan stunting tidak bisa dibebankan pada satu institusi. Kolaborasi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, PKK, hingga edukasi langsung kepada para ibu balita dianggap menjadi fondasi penting dalam menekan risiko gagal tumbuh.
“Secara keseluruhan stunting kita 5,28 persen. Tapi Saradan masih 11 persen, sehingga perlu intervensi khusus. Harapannya angka ini segera turun. Fokus kami saat ini di Saradan dan Pilangkenceng,” kata Bupati Madiun, Hari Wuryanto.
Berdasarkan data Pemkab Madiun, total 30.895 balita telah menjalani penimbangan pada bulan Oktober lalu. Angka stunting terbaru berada di kisaran 5,2 persen. Pemerintah optimistis target penurunan dapat tercapai lewat intervensi gizi yang lebih terarah, pemantauan berkala, serta penguatan koordinasi antarinstansi.
Program bantuan makanan bergizi di Saradan menjadi bagian dari rangkaian penanganan jangka panjang. Pemerintah daerah berharap distribusi gizi tambahan dapat memastikan balita mendapatkan nutrisi memadai dan mencegah potensi gagal tumbuh di Kabupaten Madiun. (Tov/Krs).