Dinkes Madiun Dekatkan Dokter Spesialis Jiwa ke Desa, ODGJ Tak Perlu ke Rumah Sakit
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 35
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun mendekatkan layanan kesehatan jiwa kepada masyarakat melalui Sahabat Jiwa. Program ini memungkinkan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mendapatkan pemeriksaan dan konsultasi dokter spesialis jiwa lebih dekat dengan tempat tinggalnya tanpa harus datang ke rumah sakit.
Pelayanan tersebut salah satunya digelar di Halaman Kantor Desa Lembah, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jumat (18/9/2026). Kegiatan dikemas menyerupai posyandu, dengan melibatkan ODGJ, keluarga pendamping, kader, pemerintah desa, puskesmas, hingga dokter spesialis jiwa.
Kegiatan diawali dengan skrining kesehatan bagi ODGJ dan keluarga pendamping. Pemeriksaan meliputi pengecekan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, gula darah, kolesterol, dan pemeriksaan kesehatan lainnya.
Setelah skrining, peserta mengikuti senam bersama yang dipandu tim dari Puskesmas Mlilir. Para ODGJ kemudian mendapat kesempatan berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis jiwa yang didatangkan ke kantor desa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujianto, mengatakan layanan Sahabat Jiwa merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang mengalami gangguan jiwa.
“Dinas Kesehatan sangat peduli. Ini dibuktikan bahwa kami tidak hanya di Lembah , sudah ada di Kebonagung, kemudian Purworejo. Semuanya kita kumpulkan,” ujar Agung.
Menurutnya, proses pemulihan ODGJ tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga diperlukan agar ODGJ tetap berinteraksi dengan masyarakat.

“Yang penting mereka mampu berinteraksi. Kalau masih muda, mudah-mudahan bisa sampai mampu mencari nafkah sendiri. Tetapi bagi yang sudah sepuh, yang penting bisa berinteraksi dengan tetangga,” katanya.
Agung menambahkan, keluarga perlu terus mengajak ODGJ berkomunikasi dan beraktivitas agar proses pemulihan dapat berjalan secara bertahap.
“Untuk meringankan cobaan ini dalam rangka kesembuhan, tidak hanya tergantung pada tim kesehatan. Tetapi dukungan pemerintah desa, kemudian yang lebih kecil lingkupnya dukungan keluarga, diajak terus berinteraksi, diajak ngobrol dan sebagainya,” jelasnya.
Agung menjelaskan, program Sahabat Jiwa dibentuk karena jumlah ODGJ di Kabupaten Madiun cukup banyak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, terdapat sekitar 2.998 ODGJ, dengan lebih dari 1.400 di antaranya masuk kategori gangguan jiwa berat.
Kondisi geografis Kabupaten Madiun yang luas menjadi salah satu pertimbangan pemerintah mendekatkan layanan kesehatan jiwa kepada masyarakat.
“Awal mulanya terbentuk Sahabat Jiwa ini merupakan inovasi dari Dinas Kesehatan. Pasien ODGJ kita di Kabupaten Madiun ada 2.998. Dari itu ada 1.400 sekian yang berat,” ungkapnya.
Karena itu, Dinkes menggandeng puskesmas untuk menghadirkan dokter spesialis jiwa secara langsung ke wilayah yang memiliki kebutuhan layanan kesehatan jiwa.
“Sehingga masyarakat yang memiliki gangguan jiwa tidak perlu datang ke rumah sakit, tetapi tiap bulan kita mendekatkan pelayanan untuk pemeriksaan gangguan jiwanya lebih dekat kepada masyarakat,” imbuh Agung.
Dalam pelayanan Sahabat Jiwa, ODGJ tidak hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan jiwa. Mereka juga memperoleh pemeriksaan kesehatan umum dan konsultasi terkait pengobatan.
“Di Sahabat Jiwa mereka mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis. Ada tensi, pengukuran tinggi badan, berat badan, kemudian gula darah, kolesterol dan sebagainya,” jelas Agung.
Setelah itu, dokter spesialis jiwa melakukan konsultasi untuk mengevaluasi kondisi pasien, termasuk menentukan apakah pengobatan tetap dilanjutkan atau perlu dilakukan penyesuaian.
“Dilakukan konsultasi dengan dokter spesialis jiwa, apakah pengobatannya dilanjutkan atau kemudian ditambah. Sehingga mereka tetap terkontrol kesehatan maupun kesehatan jiwanya,” katanya.

14 ODGJ di Desa Lembah
Sementara itu, Kepala Desa Lembah, Andik Eko Widodo, mengatakan terdapat 14 ODGJ yang mengikuti layanan Sahabat Jiwa di desanya. Seluruhnya masuk kategori gangguan jiwa sedang.
Menurut Andik, kondisi ODGJ di Desa Lembah saat ini relatif stabil. Keluarga juga dinilai kooperatif dalam mendampingi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa.
“Untuk kondisi sehat jiwa di Desa Lembah, alhamdulillah sampai saat ini kondisinya stabil dan ini kondisi sedang. Tidak ada yang over, tidak ada yang temperamen,” kata Andik.
Ia menilai keberadaan Sahabat Jiwa memberikan manfaat karena ODGJ dapat memperoleh layanan dan pengambilan obat secara rutin setiap bulan.
Sebelum adanya layanan tersebut, kata dia, sebagian pasien kesulitan menjalani pengobatan secara teratur karena harus datang ke fasilitas kesehatan.
“Dengan adanya posyandu ini tiap bulan, jamnya ditentukan dari tim kesehatan dan kader. Pendaftarannya rutin tiap bulan,” ujarnya.
Andik memastikan ODGJ di Desa Lembah tidak harus datang ke rumah sakit untuk mendapatkan layanan rutin dalam program tersebut.
“Alhamdulillah tidak,” jawabnya saat ditanya apakah pasien harus datang ke rumah sakit untuk kontrol.
Ia juga menyebut tidak ada kasus pemasungan terhadap ODGJ di Desa Lembah. Pemerintah desa memilih memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh warga dengan tetap mendorong keluarga dan masyarakat untuk ikut mendukung proses pemulihan. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





