Ribuan Warga Magetan Gelar Salat Istisqa’, Berharap Hujan Segera Turun
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 45
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan mengikuti salat Istisqa’ yang digelar Pemerintah Kabupaten Magetan di Alun-Alun Magetan, Jawa Timur, Jumat pagi (18/9/2026). Salat untuk memohon turunnya hujan tersebut menjadi salah satu ikhtiar di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang dan meningkatnya kejadian kebakaran di sejumlah wilayah.
Peserta salat Istisqa’ terdiri atas pejabat dan aparatur Pemerintah Kabupaten Magetan, masyarakat umum, hingga pelajar. Mereka bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun dan membawa keberkahan bagi masyarakat.
Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti mengatakan, pelaksanaan salat Istisqa’ merupakan bentuk ikhtiar dan doa bersama untuk menghadapi kondisi kemarau yang berdampak pada meningkatnya potensi kebakaran.
“Sholat Istisqa’ yaitu sholat minta diturunkan hujan. Karena kita ketahui bersama, khususnya di Kabupaten Magetan dan umumnya di Indonesia saat ini banyak terjadi musibah, khususnya kebakaran,” ujar Nanik.
Menurutnya, kebakaran di Kabupaten Magetan terjadi di sejumlah titik. Meskipun sebagian berskala kecil, banyaknya titik kebakaran membuat kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, terlebih kawasan hutan Gunung Lawu masih menghadapi ancaman kebakaran.
Nanik menegaskan, penanganan kebakaran tetap dilakukan secara langsung setiap kali laporan diterima. BPBD bersama tim relawan dan unsur terkait segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas.
“Kalau yang kebakaran itu langsung kita tangani. Begitu ada laporan, BPBD dengan tim relawan itu langsung menuju ke lokasi,” katanya.
Salah satu kawasan yang masih menjadi perhatian adalah wilayah hutan lereng Gunung Lawu masuk Desa Jabung, Kecamatan Panekan, yang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi. Nanik menyebut api di wilayah Magetan telah berhasil dipadamkan, sementara titik api yang masih terpantau berada di wilayah Ngawi.
Meski demikian, Pemkab Magetan tetap mempertahankan posko pemantauan di wilayah Ngliliran. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali menjalar ke wilayah Magetan.

“Alhamdulillah untuk di wilayah kita ini apinya sudah padam. Sekarang apinya berada di wilayah Ngawi, tapi kita tetap harus waspada,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, turunnya hujan menjadi harapan masyarakat untuk membantu mengurangi risiko kebakaran sekaligus menjaga ketersediaan sumber air.
Imam salat Istisqa’, Lukman Hidayat, mengatakan doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan agar hujan segera turun, tetapi juga memohon keberkahan, keamanan, dan kesehatan bagi masyarakat. Menurut Lukman, hujan sangat dibutuhkan karena kemarau mulai berdampak pada berkurangnya debit sejumlah sumber air. Kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian karena kawasan Gunung Lawu mulai mengalami kebakaran.
“Yang dipanjatkan karena ini kemarau agak panjang, minta keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mudah-mudahan diberi hujan, diberi berkah khususnya masyarakat Magetan, diberi keamanan dan kesehatan,” kata Lukman.
Meski sebagian sumber air mulai mengalami penurunan, Lukman menyebut kondisi di Magetan sejauh ini masih relatif tertangani. Namun, hujan tetap diharapkan segera turun untuk menjaga ketersediaan air sekaligus membantu mengurangi ancaman kebakaran.
Doa dalam salat Istisqa’ tersebut, lanjut Lukman, tidak hanya ditujukan bagi Kabupaten Magetan, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
“Ini semua kesatuan, bahkan ini Indonesia. Diawali dengan di Magetan,” ujarnya.
Pemkab Magetan berharap hujan dapat segera turun sehingga risiko kebakaran dapat ditekan dan kondisi lingkungan serta ketersediaan air masyarakat kembali terjaga. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





