Kamis, 15 Okt 2026
Trending Tags

Duh ! Sekolah Rakyat Rintisan Magetan Batal, Ini Alasannya

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • visibility 264
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Pemkab Magetan siapkan lahan sekolah rakyat permanen di Karangrejo. Foto : Kus-Sinergia

Sinergia | Magetan – Rencana Pemerintah Kabupaten Magetan membentuk Sekolah Rakyat (SR) rintisan dipastikan batal. Setelah sebelumnya sempat menyiapkan Gedung Graha Pusat Literasi Plaosan sebagai lokasi sementara, namun kini memilih langsung membangun Sekolah Rakyat permanen dengan skala penuh.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Magetan, Elmy Kurniarto Widodo. Menurutnya, Magetan tidak masuk dalam daerah pelaksana Sekolah Rakyat rintisan dan diarahkan langsung menuju pembangunan sekolah permanen oleh pemerintah pusat.

“Magetan tidak ditetapkan untuk rintisan. Kita langsung sekolah baru,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemkab Magetan sempat merancang sekolah rintisan sebagai tahap awal program Sekolah Rakyat. Bahkan, Graha Literasi Plaosan telah diproyeksikan menjadi lokasi sementara dengan kapasitas awal sekitar 100 siswa tingkat SD dan SMP.

Namun, rencana tersebut akhirnya tidak berlanjut setelah pemerintah pusat meminta kesiapan pembangunan sekolah permanen lengkap dengan lahan yang memadai.

Untuk mendukung proyek tersebut, Pemkab Magetan telah menyiapkan lahan lebih dari enam hektare di wilayah Manisrejo, Kecamatan Karangrejo. Akan tetapi, proses pembangunan masih terkendala kesiapan lahan karena sebagian besar area belum dilakukan pengurukan.

Dari total lahan yang tersedia, baru sekitar satu hektare yang selesai dipersiapkan. Kondisi itu membuat Pemkab kini mengajukan tambahan anggaran kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

“Kita diminta komitmennya untuk kesiapan lahan. Yang diuruk baru satu hektare, sehingga kami mengajukan apakah tersedia anggaran untuk melanjutkan pengurukan,” kata Elmy.

Berdasarkan estimasi pemerintah daerah, biaya pengurukan lahan mencapai sekitar Rp1 miliar per hektare. Dengan kebutuhan lahan lebih dari enam hektare, total anggaran pematangan lahan diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp6 miliar.

Sementara itu, pembangunan fisik Sekolah Rakyat permanen diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp200 miliar hingga Rp250 miliar yang bersumber dari APBN melalui pemerintah pusat.

Pemerintah pusat nantinya akan menangani pembangunan gedung melalui Kementerian Pekerjaan Umum setelah kesiapan lahan dinilai memenuhi syarat. Meski demikian, hingga kini penetapan resmi dari Kementerian Sosial masih belum diterbitkan. Pemkab Magetan juga memastikan sekolah tersebut belum bisa beroperasi pada tahun ajaran terdekat.

“Kalau daerah lain yang dibangun sekarang untuk tahun ajaran ini. Kalau kita kemungkinan untuk tahun ajaran berikutnya,” jelasnya.

Pada tahap awal operasional, Sekolah Rakyat Magetan dirancang membuka empat rombongan belajar yang terdiri dari dua kelas jenjang SD dan dua kelas jenjang SMP. Masing-masing kelas akan diisi sekitar 40 siswa sehingga total kapasitas awal mencapai 160 siswa.

Ke depan, kompleks pendidikan tersebut dirancang berkembang hingga jenjang SMA dalam satu kawasan terpadu.

Saat ini, Dinas Sosial mulai melakukan tahap pra-pendataan calon siswa dari keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan kelompok masyarakat miskin sebagai sasaran utama program.

Sementara untuk tenaga pendidik, rekrutmen akan dilakukan pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Batalnya Sekolah Rakyat rintisan membuat target operasional program di Magetan mundur. Namun di sisi lain, Pemkab kini berpeluang langsung memiliki kompleks Sekolah Rakyat permanen dengan kapasitas lebih besar dan fasilitas yang lebih lengkap dibanding konsep rintisan sebelumnya. (Kus)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tragis! Ledakan Petasan Balon Udara Tewaskan Remaja 15 Tahun, Rumah Hancur Porak Poranda photo_camera 2

    Tragis! Ledakan Petasan Balon Udara Tewaskan Remaja 15 Tahun, Rumah Hancur Porak Poranda

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo — Nasib tragis menimpa tiga pemuda di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, saat meracik petasan yang diduga akan diterbangkan menggunakan balon udara tanpa awak untuk persiapan tradisi menjelang Lebaran. Ledakan hebat yang terjadi pada Minggu (1/3/2026) sore mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka bakar serius. Peristiwa tersebut terjadi sekitar […]

    Bagikan
  • Ops Zebra Semeru 2025, Polres Magetan Edukasi Pengendara Lewat Polantas Menyapa

    Ops Zebra Semeru 2025, Polres Magetan Edukasi Pengendara Lewat Polantas Menyapa

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Sinergia | Magetan – Upaya meningkatkan kesadaran berlalu lintas terus dilakukan Polres Magetan. Pada Sabtu (22/11/2025), Satuan Lalu Lintas menggelar Kampanye Keselamatan Berlalu Lintas di depan Mapolres Magetan dalam rangka Operasi Zebra Semeru 2025. Kegiatan dikemas secara humanis melalui program Polantas Menyapa Masyarakat. Pengendara roda dua maupun roda empat yang melintas mendapatkan edukasi langsung mengenai […]

    Bagikan
  • Siswa SMA Taruna Angkasa Diduga Jadi Korban Pengeroyokan Senior, Orang Tua Laporkan ke Polisi

    Siswa SMA Taruna Angkasa Diduga Jadi Korban Pengeroyokan Senior, Orang Tua Laporkan ke Polisi

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 315
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Dunia pendidikan kembali diguncang oleh kasus dugaan kekerasan antarsiswa. Seorang pelajar kelas XI-7 SMA Taruna Angkasa Madiun berinisial AAM (16) mengalami penganiayaan yang diduga dilakukan oleh para seniornya. Orang tua korban, Edi Sutikno, telah melaporkan insiden tersebut ke pihak kepolisian pada Kamis (04/12/2025). Insiden itu disebut terjadi pada Selasa malam […]

    Bagikan
  • Desa Bodag Jadi Sentra Cokelat, Bupati Madiun Siapkan Jalan Tembus hingga Hilirisasi Kakao

    Desa Bodag Jadi Sentra Cokelat, Bupati Madiun Siapkan Jalan Tembus hingga Hilirisasi Kakao

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 337
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun – Desa Bodag Kecamatan Kare di lereng Gunung Wilis mendadak jadi pusat perhatian Pemerintah Kabupaten Madiun. Desa yang dikenal sebagai penghasil kakao terbesar itu kini didorong naik kelas, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi menjadi sentra pengolahan cokelat mandiri dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Dalam agenda Bakti Harmoni Madiun Bersih, Sehat, […]

    Bagikan
  • Viral CCTV Tabrakan KA Logawa dan Truk di Perlintasan Bagor–Saradan, Diduga Palang Pintu Perlintasan Belum Tertutup Sempurna

    Viral CCTV Tabrakan KA Logawa dan Truk di Perlintasan Bagor–Saradan, Diduga Palang Pintu Perlintasan Belum Tertutup Sempurna

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 551
    • 0Komentar

    Sinergia | Nganjuk – Rekaman CCTV detik-detik tabrakan antara KA Logawa dengan sebuah truk di perlintasan sebidang resmi terjaga (JPL 103) KM 126+428 petak jalan Bagor–Saradan, Kabupaten Nganjuk, Kamis (9/7/2026), viral di media sosial. Video tersebut memicu perhatian publik karena memperlihatkan palang pintu perlintasan belum tertutup sempurna ketika sejumlah kendaraan masih melintas. Beberapa saat kemudian, […]

    Bagikan
  • Empat Bocah Tewas Tenggelam di Sungai Terpencil Jambon Ponorogo

    Empat Bocah Tewas Tenggelam di Sungai Terpencil Jambon Ponorogo

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 481
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Tragedi memilukan terjadi di aliran Sungai Sudo, Dusun Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jumat (6/2/2026). Empat bocah dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam saat mandi di sungai yang berada di kawasan terpencil, jauh dari permukiman warga. Keempat korban masing-masing berinisial JA (7), AW (4), SA (4), dan AR (4). Seluruh […]

    Bagikan
expand_less