Meski Bulog Salurkan 18 Ribu Liter Per Pekan, Minyakita di Pasar Sayur Magetan Diharga Rp. 21 Ribu Per Liter
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 51
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Penyaluran MinyaKita oleh Perum Bulog di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Magetan belum sepenuhnya mampu menekan harga di tingkat konsumen. Meski setiap pekan digelontorkan hingga 18 ribu liter minyak goreng bersubsidi, MinyaKita di Pasar Sayur Magetan masih dijual seharga Rp21.000 per liter atau jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Pantauan di Pasar Sayur Magetan, Selasa (7/7/2026), menunjukkan harga MinyaKita hanya terpaut sekitar Rp1.000 dari minyak goreng kemasan non-subsidi. Minyak goreng merek Fortune maupun Sunco dijual sekitar Rp22.000 per liter, sehingga banyak konsumen memilih beralih ke produk non-subsidi yang dinilai lebih dikenal kualitasnya.
Pedagang menyebut kondisi tersebut membuat daya tarik MinyaKita semakin menurun. Padahal, saat masih dijual sesuai HET, produk bersubsidi itu menjadi pilihan utama masyarakat karena menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan minyak goreng kemasan lainnya.
Salah seorang pedagang, Helmi, mengatakan pihaknya tidak memperoleh pasokan MinyaKita langsung dari Bulog, melainkan dari tenaga penjualan (sales). Akibatnya, harga beli yang diterima pedagang sudah mencapai sekitar Rp20.500 per liter sehingga ruang keuntungan sangat terbatas.
“Barang yang kami dapat bukan langsung dari Bulog, tetapi dari sales dengan harga sekitar Rp20.500 per liter. Kalau dijual Rp21.000, untungnya sangat sedikit. Karena selisih dengan minyak non-subsidi hanya sekitar seribu rupiah, banyak pembeli akhirnya memilih merek lain,” ujarnya.
Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Nanik. Menurutnya, MinyaKita kini tidak lagi memiliki keunggulan harga seperti saat pertama kali diluncurkan pemerintah. Selisih harga yang semakin tipis membuat konsumen beralih ke minyak goreng non-subsidi.
“Dulu MinyaKita dijual sesuai HET sehingga menjadi pilihan masyarakat. Sekarang harganya hampir sama dengan merek lain, selisihnya hanya sekitar seribu rupiah, sehingga banyak pembeli memilih minyak non-subsidi,” katanya.
Di sisi lain, Perum Bulog Cabang Ponorogo memastikan distribusi MinyaKita di Magetan terus ditingkatkan. Kepala Cabang Perum Bulog Ponorogo, Budiawan Susanto, mengatakan khusus di Pasar Sayur Magetan, Bulog melakukan penyaluran rutin dua kali setiap pekan dengan volume masing-masing sekitar 9.000 liter atau total 18.000 liter per pekan.
Distribusi tersebut disalurkan melalui 15 pedagang mitra resmi Bulog dengan harapan masyarakat dapat memperoleh MinyaKita sesuai HET sebesar Rp15.700 per liter.
“Kami menjadwalkan penyaluran dua kali dalam seminggu, masing-masing sekitar 9.000 liter. Harapannya masyarakat bisa mendapatkan MinyaKita dengan harga sesuai HET,” ujar Budiawan.
Selain memastikan ketersediaan pasokan, Bulog juga mengingatkan seluruh mitra resmi agar menjual MinyaKita sesuai ketentuan pemerintah. Apabila ditemukan pelanggaran, Bulog akan menjatuhkan sanksi secara bertahap, mulai dari teguran hingga pencabutan status sebagai mitra atau blacklist sehingga tidak lagi diperbolehkan menjual MinyaKita melalui jalur distribusi resmi. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





