Lokasi Koperasi Merah Putih di Magetan Jadi Sorotan, Dinilai Kurang Strategis
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 52
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang mulai beroperasi di berbagai daerah menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat desa. Namun, di tengah proses pengembangannya, sejumlah gerai koperasi justru menjadi sorotan karena dinilai berdiri di lokasi yang kurang strategis untuk aktivitas perdagangan.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, tetapi juga terlihat di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Beberapa bangunan koperasi berada di lokasi yang jauh dari pusat keramaian sehingga memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat mengenai efektivitasnya dalam menjangkau konsumen.
Sejumlah gerai bahkan berdiri di lokasi yang tidak lazim bagi sebuah pusat aktivitas ekonomi. Di Desa Pelangkrongan, Kecamatan Poncol, bangunan koperasi berada di tepi jalan yang menghadap jurang sehingga dinilai kurang mencolok bagi pengguna jalan.
Sementara itu, gerai Koperasi Merah Putih di Kelurahan Lembeyan Kulon, Kecamatan Lembeyan, berada tepat di depan tempat pemakaman umum. Kondisi serupa juga ditemukan di Desa Tapen yang berlokasi di depan saluran irigasi, serta di Desa Krowe yang berdiri di tengah hamparan persawahan produktif.
Lokasi-lokasi tersebut belakangan ramai diperbincangkan masyarakat, termasuk melalui media sosial. Tidak sedikit warga yang mempertanyakan pertimbangan pemilihan lokasi, mengingat keberhasilan sebuah gerai umumnya dipengaruhi oleh aksesibilitas serta tingginya mobilitas masyarakat di sekitarnya.
Suyanto (48), warga Kecamatan Poncol, menilai lokasi menjadi salah satu faktor penting dalam menarik pembeli. Menurutnya, apabila gerai berada di tempat yang kurang terlihat, konsumen dari luar wilayah kemungkinan tidak mengetahui keberadaannya.
“Kalau lokasinya seperti ini, yang belanja mungkin hanya warga sekitar. Kalau orang luar kan belum tentu tahu atau sengaja datang ke sini,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Rini (36), warga Lembeyan. Ia mengaku keberadaan koperasi di depan area pemakaman bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi sebagian masyarakat untuk singgah, meski hal itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan.
“Sebenarnya bangunannya bagus, tapi orang pasti punya pertimbangan kalau letaknya persis di depan makam. Yang penting nanti produknya lengkap dan harganya murah supaya tetap ramai,” katanya.

Selain mempertanyakan lokasi, sebagian warga juga ingin mengetahui arah pengembangan Koperasi Merah Putih. Mereka menilai perlu ada kejelasan apakah koperasi hanya difokuskan melayani kebutuhan masyarakat desa setempat atau juga dirancang untuk menarik konsumen dari luar wilayah sebagaimana minimarket yang umumnya berada di jalur utama.
Di sisi lain, tidak semua masyarakat memandang lokasi tersebut sebagai sebuah kelemahan. Sebagian warga justru menilai kedekatan koperasi dengan lingkungan permukiman lebih penting dibanding berada di jalan raya.
Wahyudi (52), warga Desa Krowe, menilai koperasi desa memang seharusnya mengutamakan kemudahan akses bagi warga setempat, bukan semata mengejar lalu lintas kendaraan.
“Kalau tujuannya melayani warga desa, ya tidak harus di pinggir jalan nasional. Yang penting mudah dijangkau warga sini dan pengelolaannya bagus,” tuturnya.
Pandangan optimistis juga disampaikan Dwi, warga Desa Tapen. Menurutnya, lokasi yang berada di dekat persawahan maupun saluran irigasi bukan berarti tidak memiliki prospek. Dengan pengelolaan yang profesional, tempat yang awalnya dianggap sepi justru dapat berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.
“Sekarang banyak tempat yang awalnya dianggap sepi, ternyata bisa ramai setelah dikelola serius. Siapa tahu nanti justru jadi hidden gems,” ujarnya.
Terlepas dari beragam pandangan tersebut, masyarakat menilai keberhasilan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh letak bangunan. Ketersediaan produk yang dibutuhkan warga, harga yang bersaing, kualitas pelayanan, manajemen koperasi, serta kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama yang akan menentukan keberlangsungan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap koperasi tersebut.(Kus).
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Krs/Byg





