Inspiratif! Seorang Guru Sulap Dak Lantai Tiga Jadi Kebun Ketahanan Pangan, Tanam Karakter Siswa Lewat Praktik Nyata
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 9 menit yang lalu
- visibility 23
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai akademik. Pembentukan karakter seperti disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, hingga jiwa kewirausahaan membutuhkan pengalaman langsung yang dapat dirasakan peserta didik.
Semangat tersebut sejalan dengan Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) yang digagas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Program ini mendorong sekolah menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sarana belajar sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan dan pelestarian alam.
Gagasan itu diwujudkan Tarmin, guru SMK Negeri 2 Ponorogo, dengan cara sederhana namun inspiratif. Ia mengubah area kosong di dak lantai tiga Kost Griya Amanah yang dikelolanya di Jalan Poncowolo, Pakunden, Ponorogo, menjadi kebun produktif yang dimanfaatkan sebagai laboratorium belajar bagi siswa.
Lokasinya yang tidak jauh dari sekolah membuat kebun tersebut mudah dijangkau sebagai tempat praktik di luar ruang kelas. Di atas dak bangunan itu, puluhan tanaman pangan tumbuh subur dalam media tanam yang dibuat dari galon air mineral bekas. Berbagai jenis sayuran seperti sawi, bayam, kangkung, bawang merah, cabai, seledri, terong, hingga aneka tanaman hortikultura lainnya memenuhi area kebun dengan susunan yang rapi.
Konsep yang diterapkan tidak berhenti pada budidaya tanaman. Para siswa juga diajak memahami pentingnya ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah organik menjadi kompos. Daun kering, sisa tanaman, dan limbah organik lainnya diolah kembali sebagai pupuk sehingga proses bercocok tanam menjadi lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi limbah.
Hasil panen dari kebun tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sayuran penghuni Kost Griya Amanah yang sebagian besar merupakan siswa SMK Negeri 2 Ponorogo. Saat produksi melimpah, sayuran segar juga dibagikan kepada warga sekitar sebagai bentuk kepedulian sosial.
Tarmin mengatakan, kebun tersebut merupakan implementasi nyata Program SIKAP sekaligus media untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik.
“Program ini bukan sekadar mengajarkan cara menanam sayuran, tetapi juga menanamkan karakter. Anak-anak belajar disiplin merawat tanaman setiap hari, bertanggung jawab terhadap tugasnya, bekerja sama, mencintai lingkungan, serta memahami pentingnya ketahanan pangan. Ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap Program SIKAP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sekaligus langkah kecil dalam mitigasi perubahan iklim melalui pemanfaatan lahan sempit, pengelolaan sampah organik, dan penggunaan limbah galon bekas sebagai media tanam yang bernilai guna. Harapan kami, kebiasaan baik ini dapat dibawa pulang oleh siswa dan diterapkan di lingkungan keluarga maupun masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik memberikan pengalaman yang lebih bermakna dibandingkan hanya mempelajari teori di dalam kelas. Melalui kegiatan tersebut, siswa memahami bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan, melainkan membutuhkan kesabaran, ketekunan, konsistensi, dan kerja sama. Mereka juga belajar bahwa hasil dari sebuah proses dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Salah seorang siswa, Maya, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya sangat senang bisa ikut belajar menanam. Selama ini saya hanya melihat orang bercocok tanam, tetapi sekarang bisa mencoba sendiri. Pengalaman ini sangat berarti bagi saya. Saya jadi tahu cara memanfaatkan barang bekas menjadi media tanam, merawat tanaman sampai panen, dan insyaallah nanti akan saya terapkan di rumah bersama keluarga,” katanya.
Kebun di atas dak itu kini tidak hanya menghasilkan sayuran segar, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menumbuhkan kreativitas, kepedulian sosial, dan semangat berbagi. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan serta tantangan perubahan iklim, inovasi tersebut membuktikan bahwa pendidikan dapat dimulai dari ruang sekecil apa pun.
Kisah Tarmin menjadi contoh bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah sederhana. Sebidang dak yang sebelumnya kosong kini menjelma menjadi laboratorium kehidupan, tempat tumbuhnya karakter, kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan. Dari ruang sederhana itu, para siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan akan lebih bernilai ketika diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez




