Jalan Kaki Ribuan Kilometer Demi Perdamaian, 57 Bhikkhu ASEAN Singgah di Madiun
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 41
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Misi perdamaian lintas negara dibawa 57 bhikkhu peserta Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 saat singgah di Pendopo Ronggo Djumeno, Kabupaten Madiun, Kamis malam (21/5/2026). Rombongan bhikkhu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia itu disambut langsung oleh Pemerintah Kabupaten Madiun sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur.
Perjalanan spiritual tersebut menjadi simbol persaudaraan lintas agama, budaya, dan negara di tengah keberagaman Indonesia. Para peserta berjalan membawa pesan damai sekaligus mengajak masyarakat menjaga toleransi dan harmoni sosial.
Perwakilan Bhikkhu Indonesia dalam IWFP 2026, Bhante Tejapuñño Mahāthera, mengatakan perjalanan itu diikuti 57 anggota Sangha. Sebanyak 50 peserta berasal dari luar negeri dan tujuh lainnya dari Indonesia.
“Kami datang dari berbagai negara. Perjalanan dimulai dari Bali dan nantinya finish di kawasan Borobudur. Kegiatan ini membawa pesan kemanusiaan dan perdamaian,” ujarnya.
Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menyebut kehadiran para bhikkhu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan nilai kesederhanaan, disiplin, ketekunan, dan cinta kasih kepada sesama.
Menurutnya, kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026 bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk terus menjaga persatuan di tengah perbedaan agama dan budaya.
“Kehadiran saudara-saudara sekalian menjadi kehormatan bagi Kabupaten Madiun sekaligus membawa pesan mulia tentang perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan,” kata Hari.
Pada Jumat pagi (22/5/2026), Hari Wuryanto juga melepas langsung rombongan bhikkhu untuk melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur Magelang Jawa Tengah. Ia berharap misi damai tersebut dapat membawa kesejahteraan dan memperkuat persatuan masyarakat.
“Untuk mewujudkan masyarakat sejahtera, kedamaian harus dibangun bersama. Meski berbeda agama dan keyakinan, kita harus tetap bersatu demi Kabupaten Madiun yang lebih baik,” pungkasnya. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





