
Sinergia | Ponorogo – Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Ponorogo memastikan ruas Jalan Mlarak–Kaponan, Desa Kaponan, Kecamatan Mlarak, yang sempat ditanami pohon pisang dan pepaya oleh warga, akan diusulkan untuk diperbaiki. Namun, perbaikan tersebut belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Ponorogo, Shintawati, mengatakan perbaikan jalan itu akan dimasukkan dalam usulan Perubahan APBD (P-APBD).
“Kami coba usulkan di P-APBD. Semoga bisa terealisasi,” ujar Shintawati, Rabu (14/1/2026).
Dalam waktu dekat, tim Bina Marga akan diterjunkan ke lokasi untuk melakukan survei. Hasil survei tersebut akan menjadi dasar penentuan metode penanganan jangka pendek.
“Kami akan cek langsung ke lapangan. Nanti dilihat penanganan seperti apa yang bisa dilakukan dalam waktu dekat,” imbuhnya.
Shintawati juga menyampaikan pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Kaponan. Saat ini, Pemdes berencana menutup lubang jalan secara sementara menggunakan tanah urug.
“Kalau Pemdes membutuhkan bantuan alat berat atau dukungan lain, tentu akan kami bantu,” jelasnya.
Menurut Shintawati, pada APBD induk tahun ini tidak terdapat alokasi anggaran untuk perbaikan ruas Jalan Mlarak–Kaponan. Karena itu, perbaikan baru bisa diupayakan melalui P-APBD.
“Nanti di P-APBD kami cek ulang jalan-jalan yang benar-benar membutuhkan penanganan. Yang paling urgent akan diprioritaskan. Sepertinya Kaponan ini masuk kategori itu,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan kondisi sekitar, besar kemungkinan metode perbaikan yang digunakan adalah pengecoran beton, menyesuaikan dengan ruas jalan di sekitarnya yang lebih dulu diperbaiki.
“Melihat jalur sebelahnya yang sudah dibeton, kemungkinan penanganannya juga sama,” ujarnya.
Shintawati mengakui ruas jalan di Desa Kaponan tersebut sudah cukup lama tidak tersentuh perbaikan. “Sudah lama belum tertangani. Mudah-mudahan bisa terealisasi di P-APBD 2025,” pungkasnya.
Sebelumnya, warga menanam pohon pisang dan pepaya di sepanjang jalan rusak sebagai bentuk protes. Aksi itu dilakukan karena kondisi jalan antar Desa Mlarak–Kaponan dinilai rusak bertahun-tahun tanpa perbaikan.
Pantauan di lapangan, terdapat enam pohon yang ditanam, lima di antaranya pohon pisang dan satu pohon pepaya. Pohon-pohon tersebut berada di sepanjang ruas jalan rusak sekitar 125 meter.
Keberadaan tanaman itu sebagai penanda pengendara harus ekstra hati-hati saat melintas, terlebih setelah hujan karena permukaan jalan menjadi licin. Belakangan, pohon-pohon tersebut dicabut kembali oleh warga setelah Kepala Desa Kaponan, Marwandi, berjanji menyediakan tanah urug untuk menutup lubang-lubang jalan secara sementara sambil menunggu penanganan dari pemerintah daerah.(ega).