Kasus TBC Anak Meningkat, Dinkes Magetan Perkuat Pelacakan dan Deteksi Dini
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 31
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Puluhan anak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, saat ini harus menjalani pengobatan akibat tuberkulosis (TBC). Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sebanyak 89 anak terkonfirmasi positif TBC, dengan sebagian besar penderita masih berusia di bawah lima tahun (balita).
Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Magetan, Agoes Yudi Purnomo, mengungkapkan bahwa pola penularan TBC pada anak umumnya berasal dari lingkungan terdekat, terutama anggota keluarga serumah. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam upaya menekan penyebaran penyakit tersebut.
“Dari total 89 anak yang terkonfirmasi, 66 di antaranya merupakan balita. Mereka hampir tidak mungkin terpapar dari luar rumah, sehingga mayoritas penularan terjadi dari orang terdekat,” jelas Agoes.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Magetan kini mengintensifkan investigasi kontak atau pelacakan terhadap individu yang tinggal serumah dengan pasien TBC. Setiap orang yang memiliki kontak erat diwajibkan menjalani pemeriksaan lanjutan guna memastikan status kesehatannya, apakah sudah terjangkit TBC aktif atau masih dalam tahap infeksi laten.
Upaya percepatan deteksi juga didukung dengan pemanfaatan teknologi kesehatan yang lebih modern. Saat ini, fasilitas layanan kesehatan di setiap kecamatan telah dilengkapi dengan berbagai alat diagnostik, seperti tes swab berbasis point of care, perangkat PCR di puskesmas dan laboratorium kesehatan daerah, serta layanan rontgen portable bantuan dari Kementerian Kesehatan.
“Pemeriksaan sekarang lebih mudah. Cukup dengan swab di lidah, hasil awal bisa diketahui. Jika masih ada kecurigaan meski hasil negatif, akan dilanjutkan dengan rontgen,” ujarnya.
Data tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kasus TBC anak di Magetan juga tergolong tinggi. Sepanjang 2025, tercatat 176 kasus TBC pada anak, dengan 121 di antaranya terjadi pada balita. Angka tersebut menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan TBC sejak dini.
Meski jumlah temuan kasus terus meningkat, Agoes menilai hal ini mencerminkan semakin optimalnya proses deteksi di lapangan. Menurutnya, semakin cepat kasus ditemukan, maka peluang kesembuhan pasien juga semakin besar.
“Jika terlambat terdeteksi, pengobatan akan lebih sulit. TBC bisa bersifat laten, seseorang bisa terpapar sekarang namun gejalanya baru muncul beberapa tahun kemudian saat imunitas menurun,” paparnya.
Dari sisi penanganan, capaian pengobatan TBC di Kabupaten Magetan tergolong cukup baik. Tingkat keberhasilan terapi pasien dilaporkan telah melampaui 90 persen. Kendati demikian, penemuan kasus baru masih menjadi pekerjaan rumah karena belum memenuhi target yang ditetapkan pemerintah.
“Hingga saat ini, capaian penemuan kasus baru masih sekitar 19 persen dari target tahunan,” pungkasnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





