Telur Rebus Kotor di Paket MBG Lembeyan Viral, Standar Kebersihan Dipertanyakan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 19
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bergulir di Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, kembali menjadi perbincangan publik. Bukan soal rasa atau porsi seperti sebelumnya, melainkan temuan satu butir telur rebus yang masih tampak kotor di bagian cangkangnya hingga viral di media sosial.
Foto yang diunggah oleh akun Facebook Tri Winarsih dalam grup Info Seputar Lembeyan memperlihatkan telur rebus dengan noda mencolok pada cangkang. Telur itu dikemas bersama roti tawar, kecap sachet, dan kacang tanah dalam plastik bening.
Melalui unggahannya, pengunggah meminta agar pihak terkait, khususnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), meningkatkan ketelitian dalam proses penanganan bahan makanan.

Dalam keterangan yang ditulisnya, ia menyampaikan, “Semoga ini bisa menjadi pelajaran agar lebih teliti… kok bisa ada kotoran sebesar itu tidak terlihat,” tulisnya.
Postingan tersebut langsung mendapatkan ratusan komentar. Warganet mempertanyakan proses penyortiran dan pembersihan telur sebelum direbus. Mereka menilai bahwa telur yang tidak dicuci dengan benar berpotensi membawa bakteri jika tidak mengikuti standar sanitasi.
Meski program MBG dimaksudkan untuk mendukung pemenuhan gizi siswa, temuan ini memunculkan kembali diskusi mengenai kualitas pengolahan bahan pangan di lapangan. Banyak warganet menilai, satu kesalahan kecil yang tampak jelas dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap program tersebut.
Sejumlah komentar menekankan bahwa kebersihan dalam pengolahan bahan makanan untuk anak sekolah bukan sekadar faktor pendukung, melainkan syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan.
Insiden ini menambah rentetan sorotan terhadap pelaksanaan program MBG di Magetan. Masyarakat berharap pihak penyelenggara segera mengevaluasi standar kebersihan, mulai dari proses seleksi bahan makanan hingga pengemasan sebelum dibagikan ke siswa.
Kualitas program dinilai tidak hanya ditentukan oleh kandungan gizi, tetapi juga oleh keseriusan penyelenggara dalam memastikan seluruh aspek, terutama sanitasi, benar-benar memenuhi standar. (Nan)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Arrachmando



Saat ini belum ada komentar