Lakukan Penyelidikan, Kepolisian Ambil Sampel Menu MBG Untuk Uji Lab Forensik
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
- visibility 23
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kab. Madiun – Polisi terus mendalami kasus dugaan keracunan massal siswa sekolah dasar di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Hal itu setelah puluhan siswa mengalami gejala mual dan muntah usai menyantap menu nasi goreng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Polres Madiun memastikan penanganan medis dan penyelidikan berjalan paralel, sembari menunggu hasil laboratorium forensik yang menjadi kunci penentuan langkah hukum berikutnya.
Wakapolres Madiun, Kompol Mukhamad Lutfi, menyebut proses evakuasi dan penanganan korban sudah dilakukan sejak laporan pertama diterima. “Dari 49 korban, 42 sudah dinyatakan sehat. Tujuh lainnya dirujuk ke RSUD Caruban untuk observasi lebih lanjut,” ujarnya.
Tim Satreskrim Polres Madiun telah mengambil sampel makanan, baik sisa konsumsi maupun porsi yang belum dibagikan, untuk diuji di Laboratorium Forensik. Hasil uji ini akan menentukan apakah keracunan benar berasal dari menu yang disajikan oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Namun Kompol Lutfi menegaskan, pembubaran atau penutupan SPPG belum dapat dipastikan sebelum hasil ilmiah keluar.“Kami belum bisa memastikan. Semua mengacu pada hasil laboratorium. Sekitar satu minggu lagi kami sampaikan hasil resminya,” katanya.
Meski sanksi belum dijatuhkan, polisi menilai perlunya langkah antisipatif. Polres Madiun meminta seluruh SPPG meningkatkan prosedur check food sebelum makanan didistribusikan. Pengujian kelayakan menu dinilai masih belum merata akibat keterbatasan alat di tiap layanan.
“Untuk sementara, SPPG terkait diminta diganti dulu. Kami imbau seluruh SPPG memastikan keamanan pangan sebelum dibagikan, agar kejadian seperti hari ini tidak terulang,” ujar Wakapolres Madiun.
Koordinasi juga dilakukan dengan Korwil SPPG Kabupaten Madiun serta Badan Gizi Nasional guna memperkuat standar security food dan memastikan setiap dapur pemenuhan gizi memenuhi persyaratan teknis sebelum beroperasi kembali.
Hingga kini penyebab keracunan belum dapat disimpulkan. Polisi menegaskan seluruh langkah lanjutan mulai dari sanksi, skorsing, hingga tanggung jawab lembaga penyedia makanan akan diambil berdasarkan data ilmiah dari laboratorium forensik.
Sementara itu, aktivitas program MBG di kecamatan tersebut dipastikan diawasi ketat. Pemerintah daerah dan aparat meminta seluruh pihak memperketat kualitas pengolahan makanan, mengingat program ini menyasar ribuan siswa sekolah dasar di Kabupaten Madiun.
Kasus ini menjadi evaluasi besar bagi pengelolaan menu bergizi gratis, sekaligus menggarisbawahi pentingnya standar keamanan pangan dalam program intervensi gizi di lingkungan pendidikan. (Tov/Krs)
- Penulis: Tova Pradana

