
Sinergia | Kab. Madiun – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun akhirnya buka suara terkait hasil uji laboratorium sisa makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cinta Anak, Desa Klecorejo. Sampel makanan yang diuji terkait kasus puluhan siswa yang mengalami mual dan muntah usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, Dinkes mengklaim makanan yang dikonsumsi para siswa dinyatakan negatif dari kandungan mikrobiologi maupun bahan kimia berbahaya.
“Tidak ditemukan toksin maupun kandungan kimia yang bersifat meracuni makanan tersebut,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Madiun, dr. Heri Setyana, saat dikonfirmasi, Sabtu (13/12/2025).
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan sebanyak 51 siswa penerima MBG mengalami keluhan mual hingga muntah setelah menyantap menu nasi goreng dengan topping jagung dan telur goreng suwir. Puluhan siswa tersebut sempat mendapatkan perawatan medis di Puskesmas dan di Rumah Sakit.
dr Heri menyebut pihaknya masih akan melakukan kajian lanjutan untuk menelusuri penyebab pasti munculnya keluhan tersebut. Menurutnya, gejala mual dan muntah tidak selalu disebabkan oleh keracunan makanan.
“Kondisi seperti ini bisa dipengaruhi banyak faktor. Selain dugaan keracunan, bisa juga karena alergi makanan atau kondisi pencernaan anak yang kurang baik saat merespons makanan yang disajikan,” jelasnya.
Dinkes Kabupaten Madiun juga mengakui bahwa saat pengambilan sampel, secara organoleptik yakni pemeriksaan melalui aroma dan tekstur makanan tersebut terindikasi sudah tidak layak konsumsi.
“Secara organoleptik, pemeriksaan fisik dan penciuman memang terkesan seperti sudah basi. Namun setelah diuji di laboratorium, hasilnya tetap negatif,” kata Heri.
Sementara itu, hingga saat ini SPPG Cinta Anak Klecorejo masih belum diperbolehkan beroperasi. Operasional baru dapat kembali dilakukan setelah memperoleh rekomendasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) serta diterbitkannya Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi. (Tov/Krs)