Dua Kasus DBD di Patihan, Dinkes Kota Madiun Lakukan Fogging dan Edukasi 3M Plus
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 45
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) Kota Madiun melakukan fogging di wilayah Kelurahan Patihan Kecamatan Manguharjo pada Selasa (10/3/2026). Hal ini setelah ditemukan dua kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di satu lingkungan yang sama. Tindakan ini dilakukan sebagai langkah cepat untuk memutus rantai penularan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Petugas Surveilans Puskesmas Ngegong, Ratna Kusumasari, menjelaskan bahwa fogging dilakukan setelah ditemukan lebih dari satu kasus DBD di lokasi yang sama, yakni pada seorang warga dewasa berusia 25 tahun dan seorang bayi berusia sekitar tiga bulan.
Menurut Ratna, kasus DBD pada bayi dengan usia sangat muda tergolong jarang terjadi sehingga perlu penanganan cepat. Selain itu, hasil penyelidikan epidemiologi (PE) menunjukkan adanya kemungkinan vektor penularan masih berada di sekitar lingkungan tersebut.
“Dalam satu lokasi ditemukan dua kasus DBD, yaitu usia dewasa 25 tahun dan bayi tiga bulan. Karena ada riwayat epidemiologi yang saling berhubungan, akhirnya kita lakukan fogging,” ujarnya.
Ratna menambahkan, sebenarnya fogging bukan langkah utama dalam pencegahan DBD karena memiliki risiko tertentu. Upaya yang lebih dianjurkan adalah penerapan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air serta berbagai langkah pencegahan tambahan lainnya.
Namun, karena terdapat lebih dari satu kasus di wilayah tersebut, fogging dilakukan untuk membunuh nyamuk yang diduga membawa virus dengue.
“Harapannya nyamuk-nyamuk yang membawa virus tersebut bisa mati sehingga rantai penularan bisa diputus lebih cepat,” jelasnya.

Ratna juga mengingatkan bahwa fogging tidak boleh dilakukan terlalu sering karena berisiko membuat nyamuk menjadi kebal terhadap insektisida. Oleh karena itu, masyarakat tetap diminta aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan 3M Plus, membersihkan tempat penampungan air dengan cara disikat, serta memastikan tidak ada genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” katanya.
Selain itu, pihak puskesmas juga membagikan bubuk abate kepada warga untuk digunakan pada tempat penampungan air sebagai langkah pencegahan tambahan.
“Setiap rumah seharusnya memiliki satu orang yang bertugas sebagai jumantik atau pemantau jentik agar bisa rutin mengecek keberadaan jentik nyamuk di rumah masing-masing,” tambahnya.
Sesuai data Dinkes-PPKB tercatat sepanjang Januari – 9 Maret 2026 terdapat 10 kasus DBD. Hal tersebut perlu diwaspadai masyarakat ditengah kondisi cuaca yang tak menentu.
Sementara itu, Lurah Patihan, Anjasmoro menyatakan pihak kelurahan mendukung penuh pelaksanaan fogging sebagai langkah pencegahan penyebaran DBD di wilayahnya.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah kelurahan berencana menggerakkan kegiatan kerja bakti rutin bersama warga untuk membersihkan lingkungan.
“Insyaallah nanti kami sampaikan kepada para ketua RT agar setiap dua minggu sekali mengadakan kerja bakti, terutama untuk membersihkan saluran air,” pungkasnya.
Upaya bersama antara petugas kesehatan, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan mampu menekan potensi penyebaran DBD di wilayah tersebut. (krs)



- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez







