Hujan Ekstrem Picu 26 Bencana di Ponorogo, 25 Longsor Terjadi dalam 5 Hari
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 56
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Ponorogo sejak awal April 2026 memicu puluhan kejadian bencana alam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat, sebanyak 26 laporan bencana masuk dalam kurun waktu 1 hingga 5 April 2026.
Kalaksa BPBD Ponorogo, Masun, menyampaikan dari total kejadian tersebut, sebanyak 25 merupakan tanah longsor dan satu kejadian lainnya berupa banjir yang terjadi di Desa Caluk, Kecamatan Slahung.
“Dalam lima hari ada 26 laporan, 25 di antaranya longsor. Puncaknya terjadi pada 5 April dengan 20 laporan dalam satu hari,” ujarnya.
Sebaran longsor terjadi di sejumlah wilayah perbukitan. Kecamatan Pulung menjadi daerah paling terdampak dengan total 13 kejadian. Desa Banaran menjadi titik terparah dengan sembilan kejadian, disusul Desa Wagir Kidul tiga kejadian, serta Desa Bekiring satu kejadian.
Selain itu, Kecamatan Ngebel tercatat mengalami enam kejadian longsor, Kecamatan Ngrayun empat kejadian, dan Kecamatan Pudak dua kejadian.
Masun menjelaskan, meningkatnya kejadian longsor ini sejalan dengan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG untuk wilayah Ponorogo pada periode 1 hingga 7 April 2026. Curah hujan tinggi dalam durasi lama menjadi pemicu utama pergerakan tanah di kawasan rawan.
BPBD memberikan perhatian khusus pada Desa Banaran, Kecamatan Pulung, yang dinilai sebagai zona rawan longsor. Di lokasi tersebut, sedikitnya tiga rumah warga dilaporkan terisolasi akibat akses jalan yang terputus oleh material longsor.
“Kondisi ini sudah sering terjadi sejak beberapa tahun lalu. Titik ini memang rawan dan sering terjadi pergerakan tanah,” jelasnya.
Berdasarkan hasil kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 2021, terdapat sekitar 17 rumah warga yang berada di zona berbahaya dan direkomendasikan untuk direlokasi. Rumah-rumah tersebut tersebar di bagian atas, tengah, hingga bawah lereng.
BPBD bersama pemerintah desa telah memberikan imbauan kepada warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras berlangsung lebih dari dua jam. Warga juga diminta untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman guna menghindari risiko longsor susulan.
“Lokasi longsor yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya pada titik retakan besar yang teridentifikasi pada 2021. Ada juga retakan lama yang berada di bagian atas lereng dengan jarak sekitar 200 meter dari titik longsor saat ini, dengan panjang retakan mencapai sekitar 500 meter,” tegas Masun.
BPBD Ponorogo terus melakukan pemantauan intensif di wilayah terdampak serta berkoordinasi dengan berbagai pihak guna mengantisipasi potensi bencana lanjutan, mengingat kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez






