Dari Digitalisasi hingga Peternakan Ayam, Cara Unik SRT Ponorogo Didik Siswa
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 73
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo — Sebanyak 109 siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, kini menikmati fasilitas belajar yang lengkap disertai pola pembelajaran berbeda dari sekolah pada umumnya. Program ini diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus efektivitas proses pendidikan para siswa.
Berlokasi di kompleks eks sentra kerajinan di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Tambakbayan, sejumlah sarana pendidikan modern mulai dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Fasilitas tersebut meliputi laptop, smartboard, hingga perangkat laboratorium untuk praktik fisika, kimia, dan biologi.Kepala SRT 5 Ponorogo, Devi Tri Candrawati, menjelaskan seluruh fasilitas tersebut berasal dari program Sekolah Rakyat yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Tak hanya perangkat belajar berbasis teknologi, sekolah juga mulai menerima tambahan koleksi buku dari Perpustakaan Nasional dan perpustakaan daerah. Selain itu, komputer tambahan turut didatangkan guna menunjang sistem pembelajaran digital.
“Untuk sarana dan prasarana penunjang belajar anak-anak sudah mulai datang dan bisa digunakan. Mulai dari laptop, smartboard, kemudian alat praktik laboratorium kimia, biologi, dan fisika,” ujar Devi, Kamis (14/5/2026).
Kebutuhan pribadi siswa pun turut dipenuhi melalui program tersebut. Setiap siswa menerima perlengkapan lengkap mulai dari seragam nasional, pramuka, batik, pakaian olahraga, jaket, hingga pakaian santai dan pakaian dalam.
Tidak berhenti di situ, siswa juga memperoleh sepatu, tas sekolah, koper, dan tumbler air minum tanpa dipungut biaya. Menurut Devi, hampir seluruh perlengkapan telah diterima siswa, kecuali beberapa anak yang saat pembagian sedang izin pulang.
Pihak sekolah bahkan telah menyiapkan sistem penggantian perlengkapan apabila pakaian maupun sepatu siswa sudah tidak sesuai ukuran akibat masa pertumbuhan.
“Karena anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, nanti kalau sudah sempit atau tidak muat akan ada mekanisme penggantian lagi,” katanya.
Selain fasilitas yang lengkap, SRT 5 Ponorogo juga menerapkan konsep pembelajaran berbeda bernama “kelas tanpa dinding”. Metode ini dirancang agar siswa tidak merasa jenuh saat mengikuti kegiatan belajar.
Devi mengungkapkan, penerapan konsep tersebut berawal dari evaluasi terhadap karakter dan kebiasaan belajar siswa. Hasilnya, hanya sekitar 30 persen siswa yang dinilai siap mengikuti pembelajaran penuh di dalam kelas, sedangkan mayoritas lainnya membutuhkan pendekatan berbeda.
“Kalau dipaksakan belajar di dalam kelas terus-menerus itu akan sia-sia. Maka kami membuat formula kelas tanpa dinding agar anak-anak nyaman belajarnya,” jelasnya.
Melalui metode tersebut, pembelajaran akademik dipadukan dengan penguatan keterampilan hidup atau life skill. Para siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik seperti hidroponik dan budidaya ayam petelur.

Dalam praktik peternakan misalnya, siswa diajak memahami penerapan ilmu pelajaran secara langsung. Saat memanen telur, mereka belajar menghitung hasil penjualan melalui matematika, memahami biaya produksi lewat ekonomi, hingga melatih kemampuan komunikasi dan negosiasi saat memasarkan hasil ternak.
“Jadi matematika masuk, ekonomi masuk, penggunaan bahasa yang lugas dan resmi saat negosiasi juga masuk. Semua dikolaborasikan dalam pembelajaran life skill,” pungkasnya. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





