Harga Minyak Goreng Melonjak, Perajin Kerupuk di Magetan Kecilkan Ukuran dan Kurangi Isi Kemasan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 51
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Lonjakan harga minyak goreng yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir memaksa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Magetan melakukan berbagai strategi agar usahanya tetap bertahan. Salah satunya dengan memperkecil ukuran kerupuk dan mengurangi jumlah isi dalam setiap kemasan tanpa menaikkan harga jual.
Kondisi tersebut dialami perajin kerupuk di Desa Malang, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan. Kenaikan harga minyak goreng, disertai naiknya harga tepung dan plastik kemasan, membuat biaya produksi meningkat signifikan sehingga margin keuntungan terus menyusut.
Sri Wahyuni (52), perajin kerupuk setempat, mengatakan sejak minyak goreng kemasan menjadi mahal dan sulit diperoleh di pasaran, ia beralih menggunakan minyak goreng curah. Namun, pilihan tersebut juga tidak banyak membantu karena harga minyak goreng curah ikut naik dari Rp16 ribu menjadi Rp19.300 per kilogram.
Dalam sehari, usahanya membutuhkan sekitar 250 kilogram minyak goreng untuk menggoreng berbagai jenis kerupuk mentah yang didatangkan langsung dari produsen. Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi membengkak, sementara daya beli masyarakat dinilai belum memungkinkan jika harga jual dinaikkan terlalu tinggi.
Sebagai jalan tengah, Sri memilih mengurangi ukuran kerupuk sekaligus mengurangi jumlah isi kemasan. Jika sebelumnya satu bungkus berisi 15 keping kerupuk dengan harga Rp3.000, kini isi kemasan dikurangi menjadi 14 keping dengan harga yang tetap sama.
Langkah tersebut dilakukan agar produk tetap terjangkau oleh konsumen sekaligus menjaga keberlangsungan usaha. Meski demikian, kebijakan itu tidak jarang memicu keluhan dari pelanggan yang menyadari isi kemasan berkurang.
“Sejak harga minyak goreng naik, kami benar-benar terdampak. Terpaksa mengurangi jumlah isi kemasan dan memperkecil ukuran kerupuk. Belum lagi harga tepung dan plastik juga ikut naik,” ujar Sri Wahyuni.
Hal senada disampaikan Wuryadi, salah seorang pengecer kerupuk. Menurutnya, keuntungan penjualan ikut menurun karena produsen mengurangi isi kemasan untuk menyesuaikan biaya produksi yang semakin tinggi.
“Penghasilan setiap hari menurun. Kerupuk yang biasanya berisi 15 keping sekarang tinggal 14 keping supaya produsen masih bisa mendapatkan sedikit keuntungan,” katanya.
Selain minyak goreng, pelaku usaha juga menghadapi lonjakan harga bahan penunjang lainnya. Harga plastik kemasan, misalnya, naik tajam dari sekitar Rp30 ribu menjadi Rp52 ribu per kilogram. Kenaikan harga tepung sebagai bahan baku utama turut menambah beban biaya produksi.
Pelaku UMKM menilai kondisi tersebut semakin menyulitkan usaha kecil yang mengandalkan keuntungan tipis. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual dengan risiko kehilangan pelanggan atau mempertahankan harga dengan mengurangi isi dan ukuran produk.
Para perajin berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku, terutama minyak goreng, tepung, dan plastik kemasan. Menurut mereka, kepastian pasokan dan harga yang stabil sangat dibutuhkan agar UMKM dapat terus berproduksi, mempertahankan tenaga kerja, dan menjaga daya saing di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





