Karhutla di Ponorogo Capai 457,62 Hektare, Bertambah 116 Hektare dalam Sebulan
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 26 menit yang lalu
- visibility 29
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ponorogo terus meluas sepanjang musim kemarau tahun ini. Hingga akhir Oktober 2026, total kawasan hutan, hutan rakyat, dan perkebunan yang terdampak kebakaran mencapai 457,62 hektare.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan luas lahan yang terbakar mengalami penambahan sekitar 116 hektare dalam kurun waktu sebulan terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan masih tingginya potensi kebakaran selama musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Menurutnya, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko karhutla. Suhu udara yang tinggi disertai angin kencang membuat api lebih mudah membesar dan merambat ke area sekitarnya.
BPBD pun mengingatkan masyarakat agar tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar. Sebab, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan berpotensi merembet dan memicu kebakaran lebih luas.
“Ini menjadi peringatan bagi masyarakat yang biasa membersihkan lahan dengan cara dibakar. Apalagi kondisi kemarau tahun ini memang sangat panjang,” ujar Masun.
Dia menyebut, sejumlah kejadian kebakaran bahkan telah menimbulkan korban jiwa. Di antaranya insiden kebakaran di wilayah Kecamatan Sampung dan Desa Pudak Kulon, Kecamatan Pudak. Secara keseluruhan, terdapat dua orang yang menjadi korban dalam peristiwa karhutla tersebut.
Berdasarkan data BPBD, sejumlah wilayah tercatat mengalami kebakaran dengan luasan cukup besar. Kecamatan Pudak menjadi salah satu wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 43,7 hektare.
Disusul wilayah Tanjungsari, Kecamatan Jenangan, dengan luasan sekitar 30,5 hektare. Kemudian Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, sekitar 30 hektare, serta Desa Kambeng, Kecamatan Slahung, mencapai 28 hektare.
Masun menegaskan, penambahan luasan kebakaran dalam sebulan terakhir menjadi perhatian serius, terlebih kondisi kemarau masih meningkatkan potensi munculnya titik api.
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran saat membersihkan lahan maupun sampah, terutama di kawasan yang berdekatan dengan hutan dan perkebunan. Warga juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat segera ditangani sebelum merembet semakin luas. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Krz/Diez





