BPBD Kota Madiun Waspadai Dampak Musim Kemarau Panjang, Petakan Daerah Rawan Krisis Air Bersih
- account_circle Kriswanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 56
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Kota Madiun – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi musim kemarau di Jawa Timur secara bertahap pada April – Juni 2026. Bahkan, diperkirakan puncak musim kemarau dominan terjadi pada Agustus 2026 mendatang. Karakteristik kemarau tahun ini pun sesuai prakiraan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Menyikapi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun telah melakukan mitigas bencana. Termasuk pemetaan wilayah kelurahan yang terdampak kemarau panjang.
“Kalau musim penghujan memang daerah seperti Kelurahan Pilangbango, Tawangrejo dan Kelun itu jadi titik rawan. Kalau untuk bencana kekeringan relatif aman. Namun kita tetap harus bersiaga dan berjaga,” ujar Plt Kalaksa BPBD Kota Madiun, M. Yusuf Asmadi, Selasa (9/6/2026).
Meski begitu, berkaca tahun-tahun sebelumnya, di beberapa warga di Kelurahan Tawangrejo dan Kelun mengalami kesulitan air bersih. Pasalnya, sebagian warga itu masih mengandalkan sumur pompa dalam. Diduga meningkatnya penggunaan diesel untuk pengairan sawah berdampak mengecilnya debit air sumur warga.
“Dari BPBD sudah siap. Kita menyiapkan tangki-tangki air. Seperti tahun kemarin itu ada di wilayah Kelurahan Kelun, kita siapkan tangki air dan juga kita distribusikan air yang sekiranya nanti dibutuhkan oleh warga setempat. Kita ada lebih dari 10 tando jika dibutuhkan,” imbuhnya.

Resiko lain bencana di musim kemarau yakni musibah kebakaran. Hal itu perlu menjadi kewaspadaan tidak hanya pemerintah namun juga masyarakat. Hal itu ditegaskan oleh Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun usai membuka Pembentukan dan Pelatihan Desa/Kelurahan Tanggap Bencana (Destana) di Kelurahan Taman.
“Namanya bencana itu tidak bisa diprediksi. Bisa datang sewaktu-waktu. Makanya hari ini bagaimana mempersiapkan warga di kelurahan. Warga harus tahu apa yang akan dilakukan pada saat nanti terjadinya bencana,” kata Bagus.
Bagus menekankan agar peran aktif masyarakat dalam menghadapi kebecanaan. Selain itu, juga saling membantu jika terjadi bencana.
“Hari ini saya tekankan tidak hanya masalah bencana. Seluruh ketangguhan bencana ini, itu harus dimulai dengan kekompakan warganya. Dalam apa pun, tidak hanya dalam bencana. Sehingga ini perlu beberapa kali harus sering disosialisasi, dikumpulkan supaya hubungan antar warga ini kuat,” pungkas Plt Walikota.
Pemkot Madiun melalui BPBD telah membentuk 11 Kelurahan Tanggap Bencana dari 27 kelurahan di Kota Madiun. Secara bertahap pembentukan Destana akan menyasar di beberapa titik lainnya. (Krs)
- Penulis: Kriswanto
- Editor: Diez





