Berita Terkini
Trending Tags

CoE Magetan 2026 Dikecam, Jumlah Event Anjlok, Inovasi Mandek, Komunitas Merasa Dimatikan

  • account_circle Kusnanto
  • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
  • visibility 181
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Peluncuran Calendar of Events (CoE) Magetan 2026 yang digelar meriah di Festival Plaza Ndoyo, Foto : Istimewa

Sinergia | Magetan – Peluncuran Calendar of Events (CoE) Magetan 2026 yang digelar meriah di Festival Plaza Ndoyo, Kamis (11/12/2025), justru memicu gelombang kritik dari publik dan pelaku wisata. Di tengah panggung seni, happening art bertema Samata Samapita, hingga parade musik keroncong yang digelar selama tiga hari, substansi kalender event dinilai jauh dari memuaskan.

Sorotan utama bukan pada acara peluncurannya, melainkan pada menyusutnya jumlah event secara drastis, dominasi agenda lama, serta dugaan minimnya transparansi proses penyusunan CoE. Dibandingkan tahun 2025 yang berisi sekitar 75 event, pada 2026 nanti jumlahnya anjlok menjadi sekitar 37 agenda.

Kepala Disbudpar Magetan Joko Trihono berdalih jika daftar yang dimasukkan adalah event yang paling memungkinkan dilaksanakan. “Tahun 2026 ada sekitar 37 event. Kami belum bisa melakukan kurasi penuh karena itu membutuhkan sertifikasi. Event-event ini kami pilih karena dinilai bisa dilaksanakan. Harapannya, selain menampilkan seni dan budaya, event juga memberi manfaat bagi UMKM dan ekonomi kreatif,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).

Namun publik menilai pernyataan tersebut tidak menjawab hilangnya puluhan agenda, apalagi tanpa laporan evaluasi CoE 2025. Aktivis pariwisata dan keterbukaan informasi, Agus Pujiono, menilai pemangkasan jumlah event bukan sekadar keputusan teknis, tetapi pukulan telak terhadap kreativitas warga.

“Dari 75 event hidup di 2025, tiba-tiba dibabat tinggal sekitar 37 di 2026. Artinya puluhan embrio yang lahir dari keringat komunitas, anak muda, ibu-ibu PKK, karang taruna, seniman kampung seperti langsung disuntik mati sebelum sempat bernapas panjang,” tegasnya.

Agus menilai penyusunan CoE 2026 tidak partisipatif, tidak transparan, dan berpotensi menjadikan kalender event sebagai alat kuasa, bukan ruang kolaborasi rakyat. “Tanpa transparansi evaluasi dan perencanaan, event hanya jadi alat kekuasaan, bukan milik masyarakat,” lanjut Agus. “Kalau embrio-embrio ini terus dibunuh dalam gelap, lima tahun lagi kita cuma punya satu festival besar setahun, 36 foto medsos dinas, dan nol denyut nadi di kampung-kampung.”

Ia menuntut Disbudpar membuka data evaluasi CoE 2025 serta melibatkan komunitas sejak tahap perencanaan. Meski jumlah agenda dipangkas, CoE 2026 tetap didominasi event lama seperti Festival Sarangan, Kirab Gunungan, Festival Bambu, Festival Duren Nak’Nan, dan Festival Kali Banjeng.

Dominasi event rutin ini memunculkan kritik bahwa pariwisata Magetan berjalan di tempat. Tidak ada terobosan baru, sementara destinasi lain berlomba menawarkan konsep kreatif untuk menarik wisatawan muda. Namun publik menilai harapan itu tidak tercermin dalam daftar CoE yang stagnan.

Musisi sekaligus pelaku seni Magetan, Nogling S, menyoroti persoalan ini dengan nada reflektif. Menurutnya, pengurangan event bisa dipahami dari sisi kondisi ekonomi dan proses adaptasi pemerintahan yang baru. “Mungkin karena penghematan anggaran atau pemerintah daerah masih butuh penyesuaian dengan para pelaku seni,” ujarnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa seniman tidak boleh sepenuhnya bergantung pada pemerintah. “Ini bisa jadi ujian kemandirian seniman dan pelaku event. Kita harus tetap berkarya dan menciptakan event mandiri tanpa selalu mengandalkan pemerintah,” imbuh Nogling S.

Namun ia tetap menegaskan bahwa pemerintah harus tetap membuka ruang agar potensi seniman tidak tersisih. Namun, hingga kini tidak ada laporan resmi mengenai realisasi CoE 2025. Terkait berapa event terlaksana, yang dibatalkan, maupun jumlah yang sekadar tercantum di daftar tanpa eksekusi.

Ketiadaan laporan ini menjadi titik kritik utama. Terlebih, meski CoE 2026 sudah diluncurkan, dokumen resmi berisi jadwal, lokasi, dan penyelenggara belum dipublikasikan di laman Magetan Tourism & Culture. Pelaku wisata mengaku kesulitan menyusun paket wisata dan strategi promosi karena tidak ada data pasti.

Tanpa reformasi perencanaan dan pelibatan komunitas, CoE Magetan dikhawatirkan hanya menjadi ritual tahunan, hidup di panggung seremonial, tetapi mati di akar kreativitas masyarakat. (Nan/Krs)

Bagikan
  • Penulis: Kusnanto

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ratusan Guru dan Kepala SD di Kabupaten Madiun Ikuti Bimtek, Penguatan Kokurikuler Jadi Fokus Pembelajaran

    Ratusan Guru dan Kepala SD di Kabupaten Madiun Ikuti Bimtek, Penguatan Kokurikuler Jadi Fokus Pembelajaran

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun — Pemerintah Kabupaten Madiun mendorong penguatan kegiatan kokurikuler di sekolah dasar sebagai bagian dari upaya membangun karakter sekaligus kompetensi peserta didik. Upaya tersebut dilakukan melalui bimbingan teknis (Bimtek) yang diikuti ribuan guru dan kepala sekolah dasar. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Agus Sucipto, menjelaskan bahwa pembentukan karakter siswa tidak hanya […]

    Bagikan
  • Pemerintah Kec Geger Menggelar Bimtek Transparansi Tata Kelola Keuangan Desa

    Pemerintah Kec Geger Menggelar Bimtek Transparansi Tata Kelola Keuangan Desa

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Sinergia Mediatama
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab.Madiun – Transparansi dan akuntabel Pengelolaan keuangan di setiap desa menjadi syarat wajib agar tata kelola sesuai regulasi. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 20 tahun 2018 menjadi payung hukum mengatur azaz dan tata tertib administrasi anggaran di desa. Tranparansi diterjemahkan agar masyarakat bisa mengakses data anggaran di setiap desa tersebut. Paling tidak minimal […]

    Bagikan
  • Idul Adha 1446 H, Pertamina Pastikan Pasokan Energi Jawa Timur Aman dan Tercukupi

    Idul Adha 1446 H, Pertamina Pastikan Pasokan Energi Jawa Timur Aman dan Tercukupi

    • calendar_month Rabu, 4 Jun 2025
    • account_circle Sinergia Mediatama
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Sinergia | Jawa Timur – Momen Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus pastikan pasokan energi wilayah Jawa Timur, baik BBM maupun LPG dalam kondisi aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi menyampaikan stok BBM dan LPG dipastikan dalam kondisi aman […]

    Bagikan
  • Permendikdasmen Akan Hapus Guru Honorer Pada Tahun 2027, Dikbud Madiun Mulai Pendataan

    Permendikdasmen Akan Hapus Guru Honorer Pada Tahun 2027, Dikbud Madiun Mulai Pendataan

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Sinergia | Madiun — Pemerintah pusat mulai menerapkan penataan tenaga non-ASN di lingkungan sekolah negeri. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 yang mengatur guru honorer di sekolah negeri hanya diperbolehkan mengajar hingga 31 Desember 2026. Mulai 1 Januari 2027, sekolah negeri dilarang menganggarkan maupun menggunakan tenaga […]

    Bagikan
  • Mengisi Celah Pendidikan Formal, PKBM Daarul Ahkaam Rawat Akses Belajar Warga Madiun

    Mengisi Celah Pendidikan Formal, PKBM Daarul Ahkaam Rawat Akses Belajar Warga Madiun

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Daarul Ahkaam menjadi salah satu ruang penting bagi warga yang selama ini berada di luar jangkauan pendidikan formal. Berdiri sejak 2003, lembaga pendidikan non-formal yang berlokasi di Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur ini kini menampung hampir 250 warga belajar melalui program kesetaraan […]

    Bagikan
  • 6 Anak Sanggar Tari Candra Waskita Harumkan Indonesia di Thailand

    6 Anak Sanggar Tari Candra Waskita Harumkan Indonesia di Thailand

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Sinergia | Ponorogo – Enam anak dari Sanggar Tari Candra Waskita, Desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Ponorogo, sukses tampil dalam ajang Indonesian Culture Night yang digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Thailand, Minggu (14/09/2025). Tanpa dukungan pemerintah, mereka tetap berangkat ke Negeri Gajah Putih dengan bermodal sumbangan akomodasi dari orang tua dan wali murid. Acara […]

    Bagikan
expand_less