Sabtu, 24 Okt 2026
Trending Tags

Debit Waduk Dawuhan Menyusut, Ratusan Hektare Sawah di Madiun Kekurangan Air

  • account_circle Tova Pradana
  • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
  • visibility 168
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Image Not Found
Debit air Waduk Dawuhan mulai berkurang dan menyusut akibat kemarau panjang. (8/9/2026), Foto : Tova-Sinergia

Sinergia | Madiun — Ratusan hektare lahan sawah di Kabupaten Madiun mulai kekurangan pasokan air setelah volume Waduk Dawuhan di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, terus menyusut. Kondisi ini terjadi di tengah cuaca panas dan tidak adanya pasokan air dari sungai menuju waduk.

Saat ini, volume air Waduk Dawuhan hanya tersisa sekitar 15 persen atau 520 ribu meter kubik dari total kapasitas mencapai 3,9 juta meter kubik.

Petugas Operasi Waduk Dawuhan, Agung Wirasat, mengatakan penyusutan volume air berlangsung cukup cepat. Selain tidak adanya aliran air masuk, tingginya suhu udara turut mempercepat proses penguapan.

“Untuk penyusutan memang drastis karena untuk inflow air dari atas (sungai ke waduk) sudah kosong. Kemudian juga untuk penguapan cepat sekali, karena memang cuaca sangat panas,” kata Agung, Selasa (8/9/2026).

Minimnya volume air membuat pengelola waduk harus mengurangi debit yang dialirkan untuk kebutuhan irigasi. Saat ini, air yang dikeluarkan dari Waduk Dawuhan hanya sekitar 0,1 meter kubik per detik.

Dengan debit tersebut, pasokan air hanya mampu menjangkau lima desa dengan luas lahan pertanian sekitar 600 hektare untuk memenuhi kebutuhan pengairan pada Masa Tanam (MT) 3.

Padahal, dalam kondisi normal, Waduk Dawuhan mampu mendukung pengairan pertanian di sekitar 10 desa dengan luasan mencapai 12 ribu hektare sawah.Kondisi tersebut membuat distribusi air harus dilakukan secara terbatas agar kebutuhan tanaman padi pada awal masa tanam masih dapat dipenuhi.

Pengelola Waduk Dawuhan memperkirakan pintu air akan ditutup dalam sekitar 10 hari ke depan. Penutupan dilakukan setelah volume air terus turun dan hanya disisakan sekitar 300 ribu meter kubik.

Air tidak akan dikuras hingga benar-benar habis. Sebagian volume sengaja dipertahankan untuk menjaga kondisi fisik tubuh bendungan.

Agung menjelaskan, kondisi bendungan yang terlalu kering berpotensi menimbulkan keretakan hingga kerusakan pada struktur bendungan.

Image Not Found
Pengelola membatasi debit air untuk kebutuhan irigasi. Foto : Tova-Sinergia

“Prediksi kami di 10 harian ke depan masih akan mengaliri sawah untuk di awal masa tanam saja, untuk tanaman padi. Untuk pemeliharaan tubuh bendungan, karena memang kalau untuk kondisi kering tanpa air, tubuh bendungan itu rawan retak, rawan rusak,” ujarnya.

“Jadi agar suhu di tubuh bendungan tetap aman, kita sisakan volumenya 300 ribu meter kubik itu untuk pemeliharaan tubuh bendungan,” imbuhnya.

Di tengah menyusutnya permukaan air Waduk Dawuhan, kondisi tersebut justru dimanfaatkan sebagian warga sekitar untuk mencari tambahan penghasilan.

Sejumlah warga mengais ikan di area waduk yang mulai menyempit. Sebagian lahan di sekitar waduk yang mengering juga mulai dimanfaatkan untuk menanam padi.

Meski demikian, pengelola memastikan air Waduk Dawuhan tidak akan dikeluarkan hingga benar-benar habis. Volume air tetap disisakan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi fisik bendungan. (Tov)

Bagikan
  • Penulis: Tova Pradana
  • Editor: Diez

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kekecewaan Wali Murid yang Anaknya Ikut MPLS tetapi Dinyatakan Tak Terdaftar di SMPN 2 Dagangan

    Kekecewaan Wali Murid yang Anaknya Ikut MPLS tetapi Dinyatakan Tak Terdaftar di SMPN 2 Dagangan

    • calendar_month Kamis, 24 Jul 2025
    • account_circle Tova Pradana
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Madiun — Harapan Kartini, warga Dusun Sebakah, Desa Ngranget, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun untuk menyekolahkan putranya di SMP Negeri 2 Dagangan pupus di tengah jalan. Alih-alih mendapatkan sekolah impian, ia justru mengalami pengalaman membingungkan usai putranya dinyatakan tidak terdaftar sebagai siswa baru, meskipun sudah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Insiden ini […]

    Bagikan
  • Pemkot Madiun Kembali Usulkan Pembangunan Rusunawa Ke Kementerian PUPR

    Pemkot Madiun Kembali Usulkan Pembangunan Rusunawa Ke Kementerian PUPR

    • calendar_month Sabtu, 11 Okt 2025
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun – Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun kembali mengusulkan pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Usulan ini menjadi lanjutan dari pengkajian serupa yang telah disampaikan sejak tahun 2023. Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Madiun, Jemakir menjelaskan bahwa dari sisi administrasi dan […]

    Bagikan
  • Dampak Polemik PSHT di Padepokan Agung Madiun, Sejumlah Sekolah Terapkan Pembelajaran Daring

    Dampak Polemik PSHT di Padepokan Agung Madiun, Sejumlah Sekolah Terapkan Pembelajaran Daring

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Kriswanto
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Sinergia | Kota Madiun — Ketegangan antara massa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang diketuai M. Taufiq dengan aparat keamanan sempat memanas saat hendak merangsek ke Padepokan Agung Madiun (PAM), Jalan Merak Nomor 10, Kota Madiun, Selasa (22/9/2026). Situasi tersebut berdampak pada aktivitas pendidikan di sekitar padepokan. Sejumlah sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi […]

    Bagikan
  • Musim Entong Tiba! Warga Banyubiru Berburu ‘Lauk Gurih’, Laris Dijual Rp20 Ribu Segelas

    Musim Entong Tiba! Warga Banyubiru Berburu ‘Lauk Gurih’, Laris Dijual Rp20 Ribu Segelas

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Sinergia | Ngawi – Datangnya musim hujan membawa aktivitas khas bagi warga di sekitar kawasan hutan jati Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Tumpukan daun jati kering yang berserakan di lantai hutan berubah menjadi habitat entong—kepompong ulat jati berwarna cokelat. Tidak hanya sebagai sumber pangan sekaligus rezeki musiman bagi warga. Sejak pagi, para ibu rumah […]

    Bagikan
  • Pejabat Eselon II di Ponorogo Terancam Non Job, Diduga Langgar Aturan ASN

    Pejabat Eselon II di Ponorogo Terancam Non Job, Diduga Langgar Aturan ASN

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2025
    • account_circle Ega Patria
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Sinergia | Kab. Ponorogo – Seorang pejabat Eselon II setingkat Kepala Dinas (Kadin) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo terancam dinonjobkan. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo, Agus Pramono. Namun, Agus belum menyebut secara gamblang siapa pejabat yang dimaksud. “Pak Bupati sudah mengambil kebijakan seperti itu. Ada hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan,” […]

    Bagikan
  • Gudang SMPN 1 Kedunggalar Ngawi Terbakar Saat Jam Pelajaran, Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran

    Gudang SMPN 1 Kedunggalar Ngawi Terbakar Saat Jam Pelajaran, Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Kusnanto
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Sinergia | Ngawi – Sebuah gudang milik SMP Negeri 1 Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, terbakar saat kegiatan belajar mengajar berlangsung pada Jumat (24/7/2026) sekitar pukul 07.30 WIB. Kebakaran yang terjadi di area sekolah tersebut sempat memicu kepanikan di kalangan siswa dan guru yang tengah mengikuti aktivitas pembelajaran. Api diketahui berasal dari gudang yang berada […]

    Bagikan
expand_less