DPRD Ponorogo Kawal Tuntutan Guru Honorer Non-dapodik
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 75
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Sekitar seribu guru honorer non-Dapodik di Kabupaten Ponorogo menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Ponorogo, Selasa (26/5/2026). Dalam aksi tersebut, para guru menuntut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo membuka kembali akses Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang disebut telah ditutup sejak tahun 2020.
Aksi yang tergabung dalam Forum Guru Tidak Tetap (GTT) Non Dapodik itu diterima langsung anggota DPRD Ponorogo Riyanto. Di hadapan massa aksi, Riyanto mengaku memahami kondisi guru honorer yang selama ini masih menerima honor minim.
“Kami menerima aksi damai dari teman-teman GTT. Saya tahu persis kondisi guru yang saat ini digaji di bawah standar,” ujar Riyanto.
Ia mengatakan DPRD Ponorogo akan mengawal seluruh aspirasi guru honorer non-Dapodik agar dapat ditindaklanjuti pemerintah daerah.
“Kami akan mengawal apa yang menjadi aspirasi guru GTT. Aspirasi ini nanti akan kami sampaikan kepada pihak terkait,” katanya.
Menurut Riyanto, DPRD juga akan melakukan diskusi bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo guna mencari jalan keluar terkait persoalan guru honorer non-Dapodik.
“Kami akan memberikan masukan terkait apa yang diinginkan teman-teman guru dan kemampuan pemerintah daerah. Mudah-mudahan 100 persen guru GTT ada solusi,” lanjutnya.
Sementara itu, para guru honorer menilai keberadaan dalam sistem Dapodik sangat penting karena menjadi syarat memperoleh berbagai fasilitas pemerintah, termasuk Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) hingga peluang mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Ketua Forum Guru Tidak Tetap Non Dapodik, Mahmud Danuri, menyebut banyak guru honorer di Ponorogo masih bertahan mengajar meski hanya menerima honor antara Rp250 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
“Hari ini kami ingin menyampaikan bahwa guru honorer di Ponorogo itu nyata dan masih ada. Kami tetap mengabdi meski dalam kondisi yang sangat terbatas,” ujarnya. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez





