Monitoring KKN-PPM UGM di Madiun, Mahasiswa Kenalkan Inovasi IoT hingga Pengembangan Wisata dan UMKM Desa
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun – Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memastikan program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Hal itu terlihat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi KKN-PPM Periode II Tahun 2026 yang digelar di Aula Desa Tulungrejo, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM, Komisi II Senat Akademik UGM, pemerintah desa, serta mahasiswa KKN yang ditempatkan di tiga desa, yakni Desa Tulungrejo, Gunungsari, dan Pulungrejo.
Dalam forum evaluasi tersebut, masing-masing kelompok mahasiswa mempresentasikan capaian program kerja yang telah dilaksanakan selama menjalankan pengabdian di masyarakat. Selain memaparkan hasil kegiatan, mahasiswa juga menyampaikan berbagai inovasi yang tengah dikembangkan untuk mendukung potensi unggulan di masing-masing desa.
Beragam program dipresentasikan, mulai dari penguatan sektor pertanian, pengembangan usaha mikro, inventarisasi potensi budaya, pemberdayaan masyarakat, peningkatan layanan kesehatan, hingga pengembangan desa wisata berbasis potensi lokal.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pengembangan alat monitoring kelembapan tanah berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut dirancang untuk membantu petani memantau kondisi kelembapan tanah secara real time melalui telepon genggam sehingga kebutuhan irigasi dapat diketahui lebih cepat dan tepat.
Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) KKN-PPM UGM Kabupaten Madiun, Shakira, menjelaskan alat tersebut merupakan pengembangan dari perangkat pendeteksi kelembapan tanah yang telah ada sebelumnya.
“Alat ini ditancapkan di lahan pertanian untuk mendeteksi kelembapan tanah, kemudian datanya langsung terhubung ke telepon seluler. Ketika kelembapan tanah berada di bawah batas yang ditentukan, sistem akan memberikan notifikasi kepada petani sehingga mereka mengetahui kapan harus melakukan irigasi,” ujarnya.
Menurut Shakira, setiap desa memiliki fokus pengembangan yang berbeda sesuai potensi wilayah masing-masing. Desa Gunungsari mengembangkan konsep wellness tourism dan pertanian, Desa Tulungrejo fokus pada inventarisasi potensi budaya serta pengembangan desa wisata, sedangkan Pulungrejo diarahkan pada penguatan sektor UMKM.
Ia berharap seluruh program yang dijalankan mahasiswa tidak berhenti ketika masa KKN berakhir, tetapi mampu diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.
“Kami membawa sekitar 100 program dari 20 mahasiswa. Harapannya, ada program-program yang dapat terus berlanjut setelah KKN selesai dan benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami juga akan tetap berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk melakukan monitoring terhadap program yang masih berjalan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Nanung Agus Fitriyanto, mengatakan monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana program mahasiswa mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menggali potensi desa yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Menurutnya, selama berada di Kabupaten Madiun, mahasiswa telah mengidentifikasi berbagai potensi strategis, mulai dari sektor pertanian hingga pariwisata, yang dapat menjadi motor penggerak pembangunan desa.
“KKN menjadi jembatan yang menghubungkan UGM dengan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar di lapangan, tetapi juga membawa hasil riset kampus agar dapat diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Nanung.
Ia menambahkan, salah satu inovasi yang saat ini terus didorong adalah pengembangan varietas padi unggul Gamagora 7, yang sedang diuji di Desa Gunungsari.
“Kalau teknologi seperti Gamagora terbukti memberikan manfaat yang luas bagi petani, tentu ini menjadi bukti bahwa hasil riset perguruan tinggi benar-benar bisa dirasakan masyarakat. Memang 50 hari KKN tidak cukup menyelesaikan semua persoalan desa, tetapi mahasiswa dapat memetakan berbagai potensi yang nantinya bisa dikembangkan secara berkelanjutan,” katanya.
Menurut Nanung, kegiatan KKN juga menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Apresiasi terhadap pelaksanaan KKN juga disampaikan Pemerintah Desa Tulungrejo. Perangkat Desa Tulungrejo, Mariadi, menilai kehadiran mahasiswa UGM memberikan banyak manfaat melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kami sangat bangga Desa Tulungrejo menjadi lokasi KKN UGM. Mudah-mudahan ilmu yang dibawa mahasiswa dapat terus bermanfaat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ungkapnya.
Menurut Mariadi, mahasiswa telah melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan Posyandu, edukasi kesehatan, pengolahan daun kelor menjadi produk pangan bergizi, hingga pendampingan UMKM berbasis olahan susu segar dan makanan tradisional yang akan diarahkan untuk memperoleh sertifikasi halal.
Melalui monitoring dan evaluasi tersebut, UGM berharap seluruh program KKN-PPM tidak hanya menjadi kegiatan pengabdian selama mahasiswa berada di desa, tetapi mampu melahirkan inovasi yang berkelanjutan dan menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di Kabupaten Madiun. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





