Efisiensi Anggaran Pangkas DAK Perpusnas, 153 Perpustakaan Desa di Magetan Tak Lagi Dapat Bantuan Buku
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 47
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan — Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak langsung terhadap pengembangan literasi masyarakat di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Lebih dari 153 perpustakaan desa kini tidak lagi mendapat bantuan buku baru setelah anggaran yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik Perpustakaan Nasional mengalami pemangkasan.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan, Endang Ambarwati, mengatakan penurunan anggaran tersebut membuat ruang fiskal dinas semakin terbatas untuk menjalankan program peningkatan budaya baca masyarakat.
Pada 2025, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan masih menerima alokasi DAK nonfisik sekitar Rp1,1 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mendukung sejumlah kegiatan literasi, termasuk pengadaan dan distribusi buku bagi perpustakaan desa.Namun, memasuki 2026, anggaran tersebut turun hampir separuh menjadi sekitar Rp600 juta. Kondisi ini membuat pengadaan buku baru untuk perpustakaan desa maupun sejumlah program literasi lainnya tidak lagi dapat dilakukan.
“Dampaknya program literasi seperti bantuan buku untuk desa itu sudah tidak ada lagi. Jumlahnya ada sekitar 153 perpustakaan desa,” ujar Endang, Selasa (11/8/2026).
Menurut Endang, kondisi tersebut diperkirakan berlanjut pada 2027. Alokasi anggaran yang diterima dinasnya diproyeksikan kembali turun menjadi sekitar Rp500 juta.
Pemangkasan anggaran tidak hanya berdampak pada perpustakaan desa. Koleksi bahan bacaan di perpustakaan daerah juga belum dapat diperbarui secara optimal. Penambahan judul buku baru menjadi semakin terbatas karena harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.
Persoalan serupa juga muncul pada pengembangan koleksi bahan bacaan digital. Keterbatasan anggaran membuat penambahan judul buku elektronik menjadi minim sehingga pilihan bacaan yang dapat diakses masyarakat melalui layanan digital ikut terbatas.
Padahal, koleksi bahan bacaan menjadi salah satu komponen dalam pengukuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Endang mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mempertahankan capaian literasi masyarakat di tengah kebijakan efisiensi. Terlebih, sejumlah komponen penilaian IPLM pada 2026 mengalami perubahan sehingga pemerintah daerah perlu menyesuaikan strategi pengembangan literasi.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan mulai mendorong masyarakat dan pengelola perpustakaan desa untuk memanfaatkan sumber bacaan digital melalui layanan E-book dan E-Perpusda.
“Indikator IPLM salah satunya koleksi buku. Karena itu, kami sosialisasikan penggunaan E-book atau E-Perpusda untuk mengantisipasi dampak efisiensi ini,” jelas Endang.
Berdasarkan catatan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan, capaian IPLM daerah tersebut pada 2025 berada di angka 6,64. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan literasi masyarakat di daerah.
Meski dukungan berupa buku fisik berkurang, Endang memastikan kegiatan literasi di tingkat desa tidak serta-merta berhenti. Berbagai kegiatan seperti bimbingan teknis dan aktivitas peningkatan kapasitas masyarakat tetap didorong dengan menyesuaikan sumber daya yang tersedia.
Dinas juga mengarahkan perpustakaan desa untuk tidak hanya bergantung pada koleksi buku fisik, tetapi mulai memperluas pemanfaatan bahan bacaan digital sebagai alternatif.
“Banyak bimbingan teknis yang dilaksanakan di setiap desa. Walaupun kebanyakan sumbernya tetap dari buku, dengan adanya efisiensi ini kami dorong penggunaan buku digital,” kata Endang.
Menurut dia, keterbatasan anggaran menjadi tantangan baru dalam menjaga ekosistem literasi. Karena itu, keberlangsungan kegiatan membaca dan peningkatan akses masyarakat terhadap bahan bacaan membutuhkan strategi yang lebih adaptif, terutama dengan memanfaatkan teknologi digital.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah daerah berharap budaya membaca tetap tumbuh meski dukungan anggaran untuk pengadaan koleksi buku mengalami pengurangan. Targetnya, capaian minat baca masyarakat dan IPLM Kabupaten Magetan tetap dapat dipertahankan di tengah keterbatasan fiskal. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez



