Empat Hari Empat Malam Tempuh Perjalanan, Relawan Magetan Antar Bantuan hingga Satar Punda Barat
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 51 menit yang lalu
- visibility 27
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Misi kemanusiaan relawan asal Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung penuh tantangan. Selama empat hari empat malam perjalanan, tim harus menghadapi kemacetan, antrean penyeberangan, perjalanan laut berjam-jam hingga kembali merasakan guncangan gempa saat tiba di lokasi tujuan.
Sebanyak 10 relawan yang tergabung dalam tim BPBD Magetan, BAZNAS, dan komunitas Relawan 24 Jam membawa bantuan senilai sekitar Rp125 juta menuju Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.
Salah satu relawan, Setyo Budi Hariyanto, mengatakan tim berangkat dari Magetan pada Selasa (15/9/2026) menggunakan dua kendaraan operasional BPBD dan Relawan 24 Jam yang dipenuhi paket bantuan.
“Perjalanan dari Magetan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, sudah menghadapi kendala karena macet dan antrean panjang selama 10 jam. Beruntung kami dibantu tim Basarnas Banyuwangi untuk proses penyeberangan,” ujar Hari.
Dari Ketapang, rombongan menyeberang menuju Bali, kemudian melanjutkan perjalanan darat sekitar enam jam sebelum kembali menyeberang melalui Pelabuhan Lembar, Lombok. Perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Kayangan hingga Pelabuhan Sape, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tantangan perjalanan belum berakhir setelah rombongan tiba di Pelabuhan Sape. Mereka harus menunggu sekitar 18 jam sebelum dapat melanjutkan penyeberangan menuju Labuan Bajo.
Perjalanan laut menuju Labuan Bajo ditempuh sekitar delapan jam menggunakan kapal kecil sambil membawa berbagai bantuan. Di antaranya pakaian untuk orang dewasa dan anak-anak, perlengkapan salat, paket sembako, serta santunan untuk anak yatim yang dihimpun dari para donatur.
Kondisi laut yang cukup menantang membuat sebagian anggota tim mengalami mabuk laut.
“Delapan jam mengarungi laut dengan ombak yang cukup menantang bikin beberapa teman mabuk laut. Dari Labuan Bajo, kami masih harus menempuh perjalanan darat sekitar tujuh jam lagi untuk sampai ke lokasi,” tuturnya.
Setelah perjalanan panjang tersebut, rombongan akhirnya tiba di Desa Satar Punda Barat pada 19 September 2026 sekitar pukul 22.00 WITA. Namun, kedatangan mereka justru disambut guncangan gempa. Bumi Manggarai Timur kembali berguncang ketika para relawan baru tiba di lokasi.

Desa tersebut dipilih sebagai sasaran penyaluran bantuan setelah para relawan memperoleh informasi mengenai minimnya bantuan yang masuk ke wilayah tersebut. Informasi awal diperoleh dari unggahan media sosial mengenai keluhan camat setempat, kemudian diperkuat melalui koordinasi dengan warga lokal yang dikenal tim.
Selama dua hari berada di Satar Punda Barat, relawan tidak hanya mendistribusikan bantuan logistik kepada warga terdampak bencana. Mereka juga bergotong royong membangun sebuah musala yang nantinya dimanfaatkan untuk kegiatan ibadah sekaligus Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Fasilitas tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan sekitar 120 kepala keluarga muslim yang tinggal di wilayah tersebut.
“Kami di desa ini bertahan dua hari, menyalurkan bantuan berupa baju, santunan anak yatim, hingga membangun sebuah musala. Kita peduli kepada saudara kita yang kena musibah, baik muslim maupun nonmuslim. Saat ini kami perjalanan pulang menuju Magetan,” jelas Hari.
Menurutnya, bantuan yang dibawa merupakan bentuk kepedulian masyarakat Magetan kepada warga yang terdampak bencana. Penyaluran dilakukan tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok masyarakat.
Setelah tim menyelesaikan kegiatan dan meninggalkan lokasi, gempa kembali mengguncang wilayah tersebut. Gempa susulan bermagnitudo 5,3 dengan kedalaman 10 kilometer terjadi pada 21 September 2026 pukul 08.41 WITA.
Rangkaian gempa tersebut membuat sebagian warga masih memilih tidak tidur di dalam rumah karena khawatir terjadi guncangan susulan.
Selain kondisi pascabencana, para relawan juga menghadapi keterbatasan air akibat musim kemarau selama berada di lokasi. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi sambutan warga terhadap rombongan dari Magetan.
Interaksi selama penyaluran bantuan dan pembangunan musala justru meninggalkan kesan tersendiri bagi para relawan. Mereka melihat kehidupan masyarakat setempat tetap diwarnai semangat gotong royong dan toleransi meski berada dalam situasi pascabencana.
“Sempat membuat warga dan teman-teman dari Magetan ketakutan. Di sana memang masih jarang penduduk yang berani tidur di dalam rumah. Tujuan kami murni kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, tanpa memandang latar belakang. Toleransi di sana luar biasa, warga sangat menghargai dan menyambut kami dengan hangat,” pungkasnya. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





