Karnaval Unik di Magetan, Puluhan Mesin Penggiling Padi Dihias Nuansa Kemerdekaan
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 42
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Magetan – Pemandangan tak biasa mewarnai perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Bangsri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Puluhan mesin penggiling padi keliling atau huler disulap menjadi kendaraan karnaval dan diarak menyusuri jalan desa.
Sedikitnya 40 unit huler keliling ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mesin-mesin yang sehari-hari digunakan untuk menggiling gabah milik petani itu dihias semenarik mungkin dengan ornamen bernuansa kemerdekaan.
Karnaval tersebut bukan sekadar memeriahkan peringatan HUT ke-81 RI. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari anniversary ke-2 Komunitas Penggiling Padi Kabupaten Magetan.
Sekretaris Desa Bangsri, Bambang Subandono, mengatakan Desa Bangsri dipilih kembali sebagai lokasi kegiatan karena wilayah tersebut dinilai memiliki sejarah penting bagi berkembangnya usaha penggilingan padi keliling di Magetan.
“Acara ini dalam rangka memperingati kemeriahan HUT RI ke-81 sekaligus anniversary komunitas penggiling padi Kabupaten Magetan yang kedua. Bangsri merupakan embrio atau awal berkembangnya huler penggilingan padi keliling,” ujar Bambang.
Menurutnya, mayoritas anggota komunitas merupakan pengusaha atau pekerja penggilingan padi keliling yang sehari-hari berkeliling melayani petani di berbagai wilayah Kabupaten Magetan. Keberadaan huler keliling berkembang seiring dengan kuatnya sektor pertanian di Desa Bangsri dan sekitarnya.
Pada pelaksanaan tahun ini, para pemilik dan operator huler dari berbagai wilayah Magetan berkumpul di Desa Bangsri. Mereka kemudian mengikuti pawai dengan rute sekitar enam kilometer melintasi wilayah Kecamatan Ngariboyo.
Tak hanya diikuti huler lokal, kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi dan temu komunitas. Sejumlah penggiling padi modifikasi dari luar daerah, termasuk Ponorogo, dijadwalkan bergabung dalam kegiatan lanjutan berupa kopi darat (kopdar) dan hiburan bersama.

Antusiasme masyarakat pun terlihat tinggi. Warga memadati sejumlah titik di sepanjang jalur yang dilalui rombongan huler. Panitia bahkan menyiapkan lima kereta kelinci untuk mengangkut warga, namun jumlah peminat disebut melebihi kapasitas tempat duduk yang tersedia.
“Antusias warga luar biasa. Kami menyiapkan lima kereta kelinci, tetapi sampai kekurangan tempat duduk. Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar dan arus di jalan juga lancar,” kata Bambang.
Bagi warga, kehadiran puluhan mesin penggiling padi dalam sebuah karnaval menjadi daya tarik tersendiri. Nurul Rosidah, salah seorang warga, mengaku sengaja menyaksikan pawai tersebut karena lokasinya dekat dengan rumah.
Menurutnya, huler yang biasanya digunakan untuk menggiling padi menjadi terlihat berbeda ketika dihias dan diarak dalam kegiatan kemerdekaan.
“Menarik karena banyak sekali masyarakat yang datang. Mesin huler yang biasanya untuk penggilingan padi dibuat untuk karnaval, jadi unik,” ujar Nurul.
Nurul mengatakan dirinya hampir setiap tahun menyaksikan kegiatan serupa karena rumahnya berada di sekitar jalur yang dilalui pawai.
Bambang menambahkan, kegiatan komunitas penggiling padi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Setelah dua tahun berturut-turut digelar di Desa Bangsri, pelaksanaan berikutnya direncanakan dapat berpindah ke wilayah lain di Kabupaten Magetan.
Selain menjadi sarana hiburan masyarakat, karnaval huler juga menjadi ruang bagi para pelaku usaha penggilingan padi keliling untuk mempererat hubungan sekaligus memperkenalkan aktivitas mereka kepada masyarakat.
Dengan menggabungkan semangat kemerdekaan, budaya gotong royong, dan aktivitas ekonomi berbasis pertanian, pawai huler ini menjadi salah satu bentuk kreativitas warga Magetan dalam memeriahkan HUT ke-81 RI. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





