Menilik Khidmatnya Upacara HUT ke-81 RI di Tengah Sungai Ngindeng Ponorogo
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 54
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Ada yang berbeda dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Senin (17/8/2026).
Pemerintah Desa Ngindeng menggelar upacara pengibaran bendera di aliran Sungai Ngindeng. Dalam pelaksanaannya, tidak seluruh peserta berada di dalam sungai. Komandan upacara, inspektur upacara, petugas pengibar bendera, serta sejumlah peserta berada di aliran sungai, sementara peserta lainnya mengikuti upacara dari bibir sungai.
Kepala Desa Ngindeng, Bima Sakti Putra, mengatakan kegiatan tersebut baru pertama kali digelar di aliran sungai. Upacara sengaja dipindahkan ke sungai sebagai bagian dari upaya mengabadikan sejarah kawasan tersebut.
Bima menyebut kawasan tersebut juga memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan Jenderal Soedirman. Karena itu, pelaksanaan upacara di lokasi tersebut diharapkan menjadi dokumentasi sejarah bagi generasi mendatang.
Selain mengangkat nilai sejarah, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian sungai.
Bima berharap Sungai Ngindeng tetap bersih dan alami sehingga ke depan dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata air. Pemerintah desa pun mulai merintis konsep desa wisata yang diharapkan dapat mendukung perekonomian masyarakat.
“Ayo kita lindungi, kita cintai sungai. Supaya nanti sungai kita lestari dan juga menjadi alami, biar orang datang ke Ngindeng melihat airnya yang bersih, tidak ada sampah, sehingga nyaman,” ujarnya.
Namun, pelaksanaan upacara di tengah sungai juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya kondisi debit air yang sewaktu-waktu dapat berubah akibat pengaturan air dari bendungan.
Sementara itu, salah satu petugas pengibar bendera, Valen Yulanda Anindita, mengaku baru pertama kali menjadi petugas Paskibraka. Siswi berusia 17 tahun tersebut mengatakan persiapan dilakukan selama sekitar dua hari. Ia bersama petugas lainnya harus berlatih di medan yang curam, berbatu dan licin.

Valen mengaku sempat merasa takut karena medan menuju lokasi upacara cukup curam, tidak rata, dan licin. Meski demikian, ia tetap mengikuti prosesi hingga selesai.
“Kalau takut sih ada, karena medannya curam dan tidak rata. Jalannya juga licin, jadi kadang terpeleset,” kata Valen.
Pelaksanaan upacara di Sungai Ngindeng ini menjadi pengalaman berbeda dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sekaligus menjadi simbol ajakan untuk mengenang sejarah dan menjaga lingkungan sungai. (Ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez



