Tragedi KM Virgo, Pesan Terakhir Doddy Sebelum Berlayar, Titip Dua Anaknya kepada Sang Ibu
- account_circle Kusnanto
- calendar_month 51 menit yang lalu
- visibility 18
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ngawi — Pesan sederhana yang disampaikan Doddy Soemarno kepada ibunya sebelum berlayar menggunakan KM Virgo Transport 8 kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarganya. Sebelum kapal berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin, warga Dusun Jetak, Desa Klitik, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, itu menitipkan dua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar kepada sang ibu.
Pria 37 tahun itu menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026). Jenazahnya berhasil diidentifikasi setelah petugas mencocokkan data DNA, ciri fisik, serta keterangan keluarga dengan sampel DNA kedua anaknya.
Setelah proses identifikasi selesai, jenazah Doddy dipulangkan dari Surabaya pada Selasa (29/9/2026). Peti jenazah kemudian tiba di rumah duka di Desa Klitik pada Rabu (30/9/2026) pagi dan langsung dimakamkan di TPU Desa Klitik, Kecamatan Geneng.
Mertua korban, Heri Siswanto, mengatakan Doddy sempat menghubungi keluarga melalui sambungan telepon pada Sabtu (12/9/2026), sehari sebelum kapal berlayar. Dalam komunikasi tersebut, Doddy secara khusus meminta ibunya menjaga kedua anaknya selama dia bekerja di luar daerah.
Menurut Heri, permintaan tersebut disampaikan karena salah satu anak Doddy sempat mengalami demam beberapa hari sebelumnya. Saat itu, tidak ada firasat bahwa percakapan tersebut akan menjadi komunikasi terakhir Doddy dengan keluarganya.
“Terakhir itu masih WA-nan sama ibunya, pesannya itu ya nitip anak-anaknya dijaga, anaknya masih SD semua, kelas I sama kelas VI,” ujar Heri seusai prosesi pemakaman, Rabu (30/9/2026).
Keluarga baru mengetahui kabar kecelakaan tersebut setelah mendapat informasi mengenai tenggelamnya kapal yang membawa ratusan penumpang. Kapal tersebut diketahui mengangkut sekitar 243 orang.
Doddy yang dalam tiga bulan terakhir bekerja sebagai kernet truk ekspedisi, saat itu tengah menjalankan pekerjaannya untuk mengirim barang dari Surabaya menuju Banjarmasin. Namun, perjalanan tersebut berakhir tragis setelah kapal yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di Laut Jawa.
Setelah kecelakaan, keluarga sempat menunggu kepastian mengenai keberadaan Doddy. Harapan untuk menemukan korban tetap dipanjatkan hingga akhirnya pihak keluarga menerima informasi mengenai temuan jenazah yang kemudian menjalani proses identifikasi.
Heri menuturkan, keluarga mendapat pemberitahuan dari Basarnas Banjarmasin mengenai temuan korban pada Minggu malam. Keesokan paginya, keluarga bersama istri Doddy, Shelvia Dwi Ratnasari, berangkat ke Surabaya untuk memberikan sampel DNA dan keterangan yang diperlukan dalam proses identifikasi.
“Dikabarin Basarnas Banjarmasin itu Minggu malam, terus Senin pagi kita berangkat ke Surabaya untuk anterin istri dan anaknya korban ini diambil DNA. Biasanya memang rute kirim barangnya itu dari Surabaya ke Banjarmasin, tapi barangnya saya tidak tahu,” jelas Heri.
Kepulangan Doddy disambut duka mendalam oleh keluarga. Isak tangis masih terdengar di rumah duka yang berada tidak jauh dari lokasi pemakaman. Warga dan kerabat berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus mengantarkan korban ke tempat peristirahatan terakhir.
Bagi keluarga, kepergian Doddy tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga pesan terakhir yang kini terus terngiang. Permintaannya agar kedua anaknya dijaga menjadi kenangan yang tersisa sebelum perjalanan kerjanya berakhir dengan tragedi di Laut Jawa. (Kus)
- Penulis: Kusnanto
- Editor: Diez





