Momen Idul Adha Jadi Berkah Bagi Perajin Tusul Sate Madiun
- account_circle Tova Pradana
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 74
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Madiun — Hari Raya Idul Adha 2026, perajin tusuk sate di Kabupaten Madiun justru kebanjiran pesanan dari berbagai daerah. Permintaan tak hanya datang dari wilayah Madiun Raya, tetapi juga luar provinsi hingga luar Pulau Jawa.
Lonjakan pesanan itu dirasakan Nahrowi, perajin tusuk sate asal Kelurahan Bangunsari, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Dalam tiga pekan terakhir, produksi tusuk sate miliknya meningkat drastis hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.
“Kalau biasanya sekitar 50 kilogram per hari, sekarang minimal bisa sampai 1 kuintal,” kata Nahrowi, Rabu (27/5/2026).
Menurut dia, jenis tusuk sate yang paling banyak dicari saat ini adalah tusuk sempol. Dalam sepekan, permintaan dari Tangerang saja bisa mencapai 3 kuintal. Sementara untuk kebutuhan Idul Adha, tusuk sate ukuran 20 sentimeter dan 22 sentimeter paling banyak diburu pelanggan dari wilayah lokal seperti Caruban, Magetan, dan Ngawi.
“Yang paling ramai tusuk sempol. Kalau tusuk sate kambing ukuran 20 dan 22 sentimeter banyak untuk kebutuhan kurban,” ujarnya.
Meski permintaan melonjak, Nahrowi memilih tidak menaikkan harga jual. Ia tetap mematok harga Rp13 ribu hingga Rp14 ribu per kilogram, tergantung ukuran tusuk sate.

Untuk ukuran 15, 18, dan 20 sentimeter dijual Rp13 ribu per kilogram. Sedangkan ukuran 22 sentimeter dibanderol Rp14 ribu per kilogram.
Dalam sehari, Nahrowi mampu memproduksi 40 hingga 80 kilogram tusuk sate secara mandiri tanpa tambahan pekerja. Tingginya permintaan membuat dirinya harus bekerja hingga larut malam demi memenuhi pesanan pelanggan.
“Sekarang hampir tiap malam lembur terus,” katanya.
Selain memproduksi sendiri, Nahrowi juga menerima setoran tusuk sate dari tetangga sekitar untuk membantu pemasaran. Cara itu dilakukan agar perputaran modal para perajin tetap berjalan selama permintaan sedang tinggi.
Ia mengaku, pesanan dari berbagai daerah mulai berdatangan setelah produk tusuk sate miliknya dipromosikan anaknya melalui media sosial seperti TikTok dan Facebook.
“Awalnya dipromosikan lewat TikTok sama Facebook. Lama-lama banyak yang tahu dan pesan dari luar daerah,” ungkapnya.
Tak hanya melayani pesanan lokal, Nahrowi juga rutin mengirim tusuk sate hingga ke Makassar. Bahkan menjelang Idul Adha tahun ini, sejumlah pondok pesantren turut memesan dalam jumlah besar.
“Nanti siang ada pesanan dari Pondok Pesantren Mayak Ponorogo, sekitar 20 ribu tusuk,” ujarnya.
Untuk bahan baku, Nahrowi memastikan stok bambu masih aman dan mudah diperoleh dari wilayah Kecamatan Dagangan. Ia menggunakan bambu ori dan bambu petung agar kualitas tusuk sate tetap terjaga.
Menurutnya, bambu ori lebih diminati karena ujung tusuk lebih awet dan tetap tajam meski dipakai berulang kali.
Nahrowi memperkirakan permintaan tusuk sate masih akan tinggi hingga H+3 Idul Adha, seiring masih berlangsungnya penyembelihan hewan kurban pada hari Tasyrik. (Tov)
- Penulis: Tova Pradana
- Editor: Diez





