Kisah Mbah Pamujo Tukang Servis Bedug Masjid di Ponorogo, Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran
- account_circle Ega Patria
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 19
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sinergia | Ponorogo – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana masjid dan musala biasanya semakin semarak dengan tabuhan bedug yang mengiringi lantunan takbir. Agar suaranya tetap nyaring saat malam takbiran, banyak pengurus tempat ibadah memperbaiki bedug mereka jauh-jauh hari sebelum Lebaran.
Di Kabupaten Ponorogo, ada sosok lansia yang justru kebanjiran pesanan servis bedug setiap memasuki bulan Ramadan. Ia adalah Pamujo, warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, yang telah lama dikenal sebagai tukang servis bedug masjid.
Pria kelahiran 1948 itu masih aktif memperbaiki bedug milik masjid maupun musala. Di rumahnya, beberapa bedug tampak antre menunggu giliran diperbaiki agar kembali siap ditabuh saat malam takbiran.
Pamujo mengaku mulai menekuni pekerjaan tersebut sejak 2008. Sebelumnya ia bekerja sebagai tukang kayu. Namun karena pesanan pekerjaan kayu mulai berkurang, ia mencoba memperbaiki bedug milik masjid di sekitar tempat tinggalnya.
“Awalnya saya tukang kayu. Karena sepi pekerjaan, saya mencoba memperbaiki bedug masjid. Lama-lama banyak yang tahu dan mulai datang untuk servis,” ujarnya.
Seiring waktu, keahliannya memperbaiki bedug mulai dikenal luas. Pesanan pun datang tidak hanya dari wilayah sekitar, tetapi juga dari berbagai daerah di Ponorogo. Kerusakan yang paling sering ditemui biasanya terjadi pada bagian kulit bedug yang menipis atau robek. Kondisi itu kerap disebabkan karena bedug dipukul terlalu keras sehingga kulitnya cepat rusak.
“Kebanyakan rusaknya di kulit. Kalau sudah tipis atau sedikit sobek biasanya langsung diganti. Biasanya karena terlalu keras memukulnya,” jelasnya.
Untuk biaya perbaikan, Pamujo menyesuaikan dengan tingkat kerusakan. Jika hanya servis pada satu sisi bedug, biaya jasa sekitar Rp300 ribu. Namun jika sekaligus mengganti kulit bedug, biayanya bisa mencapai sekitar Rp900 ribu atau lebih jika kedua sisi perlu diganti.
Selama hampir dua dekade menekuni pekerjaan tersebut, Pamujo mengaku telah memperbaiki ratusan bedug milik masjid maupun musala. “Sejak 2008 sudah ada ratusan bedug yang saya servis,” tuturnya.
Selain penggantian kulit, biaya perbaikan juga dapat bertambah apabila bagian pengikat atau pantek bedug mengalami kerusakan dan harus diganti.
Meski kini usianya telah menginjak 78 tahun, Pamujo tetap menjalankan pekerjaannya dengan semangat. Hanya saja, untuk proses pemasangan kulit sapi pada bedug yang membutuhkan tenaga besar, ia biasanya dibantu oleh anaknya. “Sekarang sudah tidak sekuat dulu, jadi kalau memasang kulit biasanya dibantu anak,” pungkasnya. (ega)
- Penulis: Ega Patria
- Editor: Diez







